\n

Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n
  1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
  2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
  3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

    Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

    Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

    Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

    Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

    Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

    Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

    Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

    Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

    Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

    Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

    \n

    Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

    1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
    2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
    3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

      Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

      Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

      Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

      Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

      Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

      Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

      Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

      Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

      Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

      Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

      \n

      Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

      Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

      1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
      2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
      3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

        Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

        Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

        Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

        Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

        Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

        Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

        Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

        Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

        Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

        Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

        \n

        Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

        Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

        Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

        1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
        2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
        3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

          Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

          Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

          Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

          Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

          Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

          Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

          Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

          Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

          Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

          Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

          \n

          Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

          Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

          Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

          Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

          1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
          2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
          3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

            Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

            Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

            Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

            Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

            Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

            Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

            Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

            Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

            Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

            Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

            \n

            Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

            \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

            \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

            \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

            \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

            \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

            \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

            \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

            \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

            \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

            \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

            Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

            Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

            Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

            Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

            1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
            2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
            3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

              Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

              Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

              Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

              Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

              Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

              Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

              Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

              Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

              Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

              Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

              \n


              Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

              Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

              \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

              \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

              \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

              \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

              \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

              \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

              \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

              \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

              \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

              \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

              Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

              Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

              Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

              Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

              1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
              2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
              3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                \n


                Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                  Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                  Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                  Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                  Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                  Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                  Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                  Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                  Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                  Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                  Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                  \n


                  Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                  Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                  Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                  Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                  \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                  \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                  \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                  \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                  \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                  \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                  \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                  \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                  \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                  \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                  Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                  Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                  Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                  Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                  1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                  2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                  3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                    Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                    Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                    Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                    Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                    Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                    Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                    Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                    Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                    Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                    Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                    \n


                    Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                    Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                    Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                    Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                    Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                    \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                    \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                    \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                    \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                    \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                    \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                    \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                    \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                    \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                    \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                    Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                    Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                    Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                    Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                    1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                    2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                    3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                      Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                      Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                      Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                      Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                      Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                      Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                      Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                      Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                      Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                      Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                      \n


                      Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                      Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                      Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                      Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                      Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                      Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                      Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                      Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                      \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                      \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                      \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                      \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                      \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                      \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                      \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                      \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                      \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                      \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                      Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                      Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                      Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                      Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                      1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                      2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                      3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                        Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                        Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                        Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                        Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                        Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                        Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                        Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                        Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                        Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                        Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                        \n


                        Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                        Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                        Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                        Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                        Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                        Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                        Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                        Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                        Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                        \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                        \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                        \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                        \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                        \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                        \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                        \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                        \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                        \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                        \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                        Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                        Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                        Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                        Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                        1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                        2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                        3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                          Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                          Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                          Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                          Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                          Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                          Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                          Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                          Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                          Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                          Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                          \n


                          Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                          Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                          Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                          Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                          Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                          Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                          Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                          Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                          Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                          Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                          \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                          \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                          \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                          \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                          \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                          \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                          \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                          \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                          \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                          \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                          Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                          Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                          Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                          Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                          1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                          2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                          3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                            Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                            Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                            Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                            Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                            Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                            Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                            Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                            Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                            Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                            Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                            \n


                            Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                            Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                            Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                            Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                            Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                            Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                            Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                            Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                            Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                            Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                            Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                            Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                            Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                            \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                            \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                            \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                            \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                            \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                            \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                            \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                            \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                            \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                            \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                            Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                            Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                            Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                            Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                            1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                            2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                            3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                              Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                              Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                              Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                              Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                              Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                              Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                              Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                              Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                              Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                              Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                              \n


                              Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                              Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                              Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                              Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                              a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                              b. seni pertunjukan;
                              c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                              d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                              e. kemahiran kerajinan tradisional.
                              Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                              Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                              Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                              Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                              Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                              Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                              Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                              Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                              Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                              Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                              Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                              Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                              Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                              Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                              Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                              \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                              \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                              \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                              \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                              \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                              \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                              \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                              \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                              \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                              \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                              Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                              Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                              Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                              Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                              1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                              2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                              3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                \n

                                Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                b. seni pertunjukan;
                                c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                  Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                  Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                  Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                  Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                  Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                  Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                  Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                  Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                  Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                  Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                  \n

                                  Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                  Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                  Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                  Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                  Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                  Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                  a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                  b. seni pertunjukan;
                                  c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                  d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                  e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                  Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                  Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                  Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                  Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                  Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                  Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                  Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                  Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                  Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                  Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                  Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                  Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                  Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                  Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                  Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                  \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                  \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                  \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                  \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                  \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                  \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                  \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                  \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                  \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                  \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                  Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                  Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                  Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                  Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                  1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                  2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                  3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                    Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                    Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                    Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                    Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                    Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                    Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                    Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                    Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                    Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                    Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                    \n

                                    Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                    Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                    Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                    Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                    Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                    Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                    Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                    a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                    b. seni pertunjukan;
                                    c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                    d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                    e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                    Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                    Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                    Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                    Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                    Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                    Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                    Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                    Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                    Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                    Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                    Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                    Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                    Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                    Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                    Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                    \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                    \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                    \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                    \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                    \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                    \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                    \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                    \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                    \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                    \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                    Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                    Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                    Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                    Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                    1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                    2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                    3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                      Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                      Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                      Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                      Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                      Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                      Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                      Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                      Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                      Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                      Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                      \n

                                      Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                      Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                      Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                      Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                      Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                      Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                      Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                      Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                      a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                      b. seni pertunjukan;
                                      c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                      d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                      e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                      Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                      Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                      Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                      Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                      Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                      Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                      Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                      Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                      Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                      Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                      Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                      Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                      Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                      Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                      Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                      \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                      \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                      \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                      \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                      \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                      \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                      \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                      \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                      \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                      \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                      Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                      Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                      Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                      Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                      1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                      2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                      3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                        Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                        Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                        Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                        Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                        Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                        Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                        Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                        Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                        Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                        Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                        \n

                                        Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                        Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                        Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                        Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                        Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                        Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                        Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                        Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                        Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                        a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                        b. seni pertunjukan;
                                        c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                        d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                        e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                        Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                        Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                        Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                        Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                        Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                        Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                        Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                        Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                        Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                        Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                        Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                        Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                        Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                        Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                        Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                        \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                        \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                        \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                        \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                        \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                        \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                        \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                        \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                        \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                        \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                        Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                        Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                        Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                        Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                        1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                        2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                        3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                          Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                          Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                          Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                          Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                          Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                          Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                          Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                          Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                          Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                          Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                          \n

                                          Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                          Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                          Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                          Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                          Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                          Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                          Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                          Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                          Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                          Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                          a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                          b. seni pertunjukan;
                                          c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                          d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                          e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                          Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                          Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                          Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                          Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                          Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                          Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                          Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                          Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                          Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                          Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                          Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                          Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                          Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                          Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                          Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                          \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                          \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                          \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                          \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                          \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                          \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                          \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                          \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                          \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                          \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                          Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                          Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                          Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                          Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                          1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                          2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                          3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                            Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                            Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                            Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                            Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                            Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                            Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                            Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                            Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                            Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                            Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                            \n

                                            Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                            Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                            Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                            Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                            Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                            Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                            Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                            Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                            Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                            Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                            Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                            a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                            b. seni pertunjukan;
                                            c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                            d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                            e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                            Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                            Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                            Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                            Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                            Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                            Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                            Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                            Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                            Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                            Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                            Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                            Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                            Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                            Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                            Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                            \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                            \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                            \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                            \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                            \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                            \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                            \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                            \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                            \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                            \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                            Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                            Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                            Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                            Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                            1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                            2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                            3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                              Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                              Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                              Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                              Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                              Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                              Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                              Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                              Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                              Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                              Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                              \n

                                              Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                              Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                              Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                              Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                              Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                              Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                              Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                              Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                              Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                              Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                              Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                              Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                              a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                              b. seni pertunjukan;
                                              c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                              d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                              e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                              Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                              Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                              Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                              Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                              Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                              Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                              Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                              Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                              Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                              Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                              Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                              Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                              Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                              Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                              Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                              \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                              \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                              \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                              \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                              \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                              \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                              \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                              \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                              \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                              \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                              Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                              Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                              Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                              Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                              1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                              2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                              3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                \n

                                                Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                b. seni pertunjukan;
                                                c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                  Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                  Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                  \n

                                                  Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                  Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                  Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                  Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                  Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                  Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                  Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                  a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                  b. seni pertunjukan;
                                                  c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                  d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                  e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                  Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                  Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                  Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                  Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                  Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                  Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                  Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                  Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                  Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                  Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                  Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                  Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                  Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                  Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                  Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                  \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                  \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                  \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                  \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                  \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                  \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                  \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                  \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                  \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                  \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                  Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                  Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                  1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                  2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                  3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                    Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                    \n

                                                    Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                    Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                    Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                    Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                    Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                    Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                    a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                    b. seni pertunjukan;
                                                    c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                    d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                    e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                    Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                    Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                    Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                    Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                    Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                    Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                    Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                    Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                    Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                    Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                    Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                    Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                    Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                    Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                    Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                    \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                    \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                    \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                    \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                    \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                    \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                    \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                    \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                    \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                    \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                    Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                    1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                    2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                    3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                      Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                      \n

                                                      Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                      Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                      Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                      Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                      Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                      Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                      Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                      a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                      b. seni pertunjukan;
                                                      c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                      d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                      e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                      Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                      Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                      Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                      Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                      Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                      Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                      Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                      Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                      Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                      Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                      Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                      Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                      Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                      Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                      Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                      \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                      \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                      \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                      \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                      \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                      \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                      \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                      \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                      \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                      \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                      Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                      1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                      2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                      3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                        Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                        \n

                                                        Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                        Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                        Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                        Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                        Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                        Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                        Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                        Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                        a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                        b. seni pertunjukan;
                                                        c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                        d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                        e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                        Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                        Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                        Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                        Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                        Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                        Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                        Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                        Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                        Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                        Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                        Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                        Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                        Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                        Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                        Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                        \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                        \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                        \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                        \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                        \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                        \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                        \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                        \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                        \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                        \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                        Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                        1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                        2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                        3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                          Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                          \n

                                                          Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                          Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                          Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                          Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                          Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                          Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                          Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                          Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                          a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                          b. seni pertunjukan;
                                                          c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                          d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                          e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                          Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                          Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                          Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                          Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                          Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                          Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                          Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                          Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                          Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                          Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                          Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                          Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                          Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                          Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                          Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                          \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                          \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                          \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                          \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                          \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                          \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                          \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                          \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                          \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                          \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                          Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                          1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                          2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                          3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                            Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                            \n

                                                            Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                            <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                            Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                            Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                            Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                            Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                            Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                            Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                            Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                            Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                            a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                            b. seni pertunjukan;
                                                            c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                            d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                            e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                            Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                            Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                            Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                            Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                            Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                            Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                            Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                            Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                            Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                            Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                            Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                            Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                            Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                            Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                            Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                            \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                            \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                            \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                            \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                            \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                            \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                            \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                            \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                            \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                            \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                            Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                            1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                            2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                            3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                              Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                              \n

                                                              Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                              <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                              Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                              Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                              Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                              Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                              Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                              Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                              Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                              Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                              a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                              b. seni pertunjukan;
                                                              c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                              d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                              e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                              Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                              Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                              Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                              Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                              Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                              Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                              Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                              Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                              Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                              Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                              Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                              Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                              Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                              Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                              Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                              \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                              \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                              \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                              \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                              \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                              \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                              \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                              \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                              \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                              \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                              Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                              1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                              2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                              3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                \n

                                                                Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                b. seni pertunjukan;
                                                                c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                  Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                  \n

                                                                  Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                  Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                  Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                  Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                  Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                  Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                  Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                  Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                  a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                  b. seni pertunjukan;
                                                                  c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                  d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                  e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                  Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                  Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                  Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                  Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                  Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                  Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                  Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                  Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                  Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                  Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                  Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                  Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                  Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                  Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                  Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                  \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                  \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                  \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                  \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                  \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                  \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                  \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                  \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                  \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                  \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                  Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                  1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                  2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                  3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                    Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                    \n

                                                                    Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                    Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                    Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                    Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                    Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                    Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                    Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                    Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                    a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                    b. seni pertunjukan;
                                                                    c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                    d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                    e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                    Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                    Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                    Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                    Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                    Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                    Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                    Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                    Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                    Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                    Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                    Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                    Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                    Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                    Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                    Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                    \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                    \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                    \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                    \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                    \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                    \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                    \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                    \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                    \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                    \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                    Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                    1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                    2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                    3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                      Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                      \n

                                                                      Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                      Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                      Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                      Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                      Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                      Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                      Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                      Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                      a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                      b. seni pertunjukan;
                                                                      c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                      d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                      e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                      Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                      Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                      Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                      Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                      Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                      Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                      Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                      Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                      Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                      Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                      Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                      Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                      Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                      Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                      Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                      \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                      \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                      \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                      \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                      \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                      \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                      \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                      \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                      \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                      \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                      Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                      1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                      2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                      3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                        Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                        \n

                                                                        Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                        Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                        Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                        Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                        Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                        Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                        Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                        Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                        a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                        b. seni pertunjukan;
                                                                        c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                        d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                        e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                        Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                        Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                        Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                        Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                        Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                        Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                        Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                        Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                        Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                        Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                        Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                        Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                        Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                        Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                        Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                        \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                        \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                        \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                        \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                        \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                        \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                        \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                        \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                        \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                        \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                        Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                        1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                        2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                        3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                          Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                          \n

                                                                          Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                          Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                          Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                          Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                          Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                          Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                          Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                          Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                          a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                          b. seni pertunjukan;
                                                                          c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                          d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                          e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                          Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                          Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                          Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                          Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                          Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                          Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                          Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                          Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                          Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                          Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                          Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                          Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                          Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                          Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                          Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                          \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                          \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                          \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                          \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                          \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                          \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                          \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                          \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                          \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                          \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                          Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                          1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                          2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                          3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                            Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                            \n

                                                                            Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                            Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                            Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                            Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                            Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                            Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                            Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                            Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                            a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                            b. seni pertunjukan;
                                                                            c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                            d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                            e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                            Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                            Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                            Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                            Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                            Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                            Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                            Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                            Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                            Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                            Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                            Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                            Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                            Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                            Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                            Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                            \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                            \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                            \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                            \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                            \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                            \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                            \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                            \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                            \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                            \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                            Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                            1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                            2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                            3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                              Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                              \n

                                                                              Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                              Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                              Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                              Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                              Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                              Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                              Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                              Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                              a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                              b. seni pertunjukan;
                                                                              c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                              d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                              e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                              Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                              Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                              Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                              Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                              Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                              Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                              Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                              Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                              Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                              Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                              Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                              Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                              Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                              Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                              Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                              \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                              \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                              \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                              \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                              \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                              \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                              \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                              \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                              \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                              \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                              Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                              1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                              2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                              3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                \n

                                                                                Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                b. seni pertunjukan;
                                                                                c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                  Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                  \n

                                                                                  Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                  Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                  Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                  Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                  Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                  Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                  Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                  Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                  a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                  b. seni pertunjukan;
                                                                                  c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                  d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                  e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                  Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                  Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                  Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                  Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                  Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                  Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                  Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                  Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                  Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                  Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                  Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                  Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                  Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                  Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                  Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                  \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                  \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                  \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                  \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                  \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                  \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                  \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                  \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                  \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                  \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                  Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                  2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                  3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                    Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                    \r\n

                                                                                    Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                    Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                    Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                    Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                    Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                    Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                    Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                    Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                    Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                    a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                    b. seni pertunjukan;
                                                                                    c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                    d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                    e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                    Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                    Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                    Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                    Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                    Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                    Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                    Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                    Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                    Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                    Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                    Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                    Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                    Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                    Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                    Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                    \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                    \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                    \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                    \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                    \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                    \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                    \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                    \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                    \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                    \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                    Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                    2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                    3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                      Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                      \r\n

                                                                                      Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                      Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                      Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                      Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                      Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                      Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                      Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                      Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                      Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                      a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                      b. seni pertunjukan;
                                                                                      c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                      d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                      e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                      Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                      Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                      Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                      Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                      Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                      Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                      Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                      Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                      Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                      Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                      Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                      Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                      Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                      Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                      Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                      \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                      \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                      \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                      \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                      \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                      \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                      \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                      \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                      \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                      \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                      Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                      2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                      3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                        Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                        \r\n

                                                                                        Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                        Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                        Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                        Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                        Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                        Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                        Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                        Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                        Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                        a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                        b. seni pertunjukan;
                                                                                        c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                        d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                        e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                        Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                        Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                        Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                        Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                        Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                        Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                        Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                        Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                        Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                        Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                        Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                        Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                        Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                        Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                        Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                        \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                        \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                        \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                        \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                        \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                        \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                        \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                        \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                        \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                        \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                        Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                        2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                        3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                          Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                          \r\n
                                                                                          \r\n

                                                                                          Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                          Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                          Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                          Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                          Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                          Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                          Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                          Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                          Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                          a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                          b. seni pertunjukan;
                                                                                          c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                          d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                          e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                          Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                          Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                          Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                          Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                          Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                          Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                          Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                          Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                          Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                          Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                          Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                          Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                          Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                          Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                          Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                          \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                          \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                          \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                          \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                          \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                          \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                          \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                          \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                          \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                          \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                          Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                          2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                          3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                            Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                            \r\n

                                                                                            Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            \r\n

                                                                                            Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                            Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                            Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                            Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                            Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                            Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                            Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                            Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                            Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                            a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                            b. seni pertunjukan;
                                                                                            c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                            d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                            e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                            Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                            Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                            Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                            Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                            Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                            Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                            Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                            Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                            Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                            Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                            Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                            Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                            Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                            Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                            Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                            \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                            \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                            \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                            \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                            \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                            \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                            \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                            \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                            \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                            \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                            Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                            2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                            3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                              Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                              \r\n

                                                                                              Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              \r\n

                                                                                              Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                              Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                              Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                              Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                              Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                              Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                              Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                              Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                              Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                              a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                              b. seni pertunjukan;
                                                                                              c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                              d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                              e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                              Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                              Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                              Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                              Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                              Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                              Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                              Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                              Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                              Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                              Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                              Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                              Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                              Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                              Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                              Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                              \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                              \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                              \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                              \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                              \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                              \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                              \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                              \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                              \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                              \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                              Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                              2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                              3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                \r\n

                                                                                                Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                \r\n

                                                                                                Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                b. seni pertunjukan;
                                                                                                c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                  Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                  \r\n

                                                                                                  Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  \r\n

                                                                                                  Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                  Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                  Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                  Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                  Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                  Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                  Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                  Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                  a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                  b. seni pertunjukan;
                                                                                                  c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                  d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                  e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                  Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                  Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                  Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                  Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                  Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                  Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                  Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                  \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                  \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                  \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                  \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                  \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                  \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                  \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                  \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                  \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                  \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                  Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                  2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                  3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                    Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                    \r\n

                                                                                                    Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    \r\n

                                                                                                    Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                    Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                    Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                    Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                    Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                    Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                    Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                    Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                    a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                    b. seni pertunjukan;
                                                                                                    c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                    d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                    e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                    Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                    Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                    Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                    Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                    Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                    Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                    Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                    \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                    \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                    \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                    \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                    \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                    \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                    \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                    \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                    \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                    \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                    Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                    2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                    3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                      Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                      \r\n

                                                                                                      Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      \r\n

                                                                                                      Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                      Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                      Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                      Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                      Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                      Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                      Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                      Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                      a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                      b. seni pertunjukan;
                                                                                                      c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                      d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                      e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                      Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                      Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                      Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                      Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                      Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                      Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                      Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                      \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                      \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                      \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                      \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                      \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                      \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                      \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                      \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                      \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                      \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                      Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                      2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                      3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                        Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                        \r\n

                                                                                                        Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        \r\n

                                                                                                        Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                        Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                        Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                        Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                        Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                        Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                        Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                        Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                        a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                        b. seni pertunjukan;
                                                                                                        c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                        d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                        e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                        Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                        Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                        Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                        Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                        Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                        Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                        Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                        \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                        \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                        \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                        \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                        \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                        \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                        \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                        \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                        \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                        \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                        Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                        2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                        3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                          Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                          \r\n

                                                                                                          Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          \r\n

                                                                                                          Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                          Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                          Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                          Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                          Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                          Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                          Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                          Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                          a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                          b. seni pertunjukan;
                                                                                                          c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                          d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                          e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                          Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                          Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                          Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                          Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                          Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                          Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                          Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                          \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                          \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                          \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                          \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                          \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                          \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                          \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                          \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                          \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                          \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                          Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                          2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                          3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                            Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                            \r\n

                                                                                                            Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            \r\n

                                                                                                            Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                            Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                            Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                            Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                            Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                            Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                            Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                            Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                            a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                            b. seni pertunjukan;
                                                                                                            c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                            d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                            e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                            Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                            Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                            Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                            Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                            Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                            Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                            Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                            \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                            \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                            \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                            \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                            \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                            \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                            \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                            \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                            \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                            \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                            Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                            2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                            3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                              Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                              \r\n

                                                                                                              Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              \r\n

                                                                                                              Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                              Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                              Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                              Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                              Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                              Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                              Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                              Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                              a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                              b. seni pertunjukan;
                                                                                                              c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                              d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                              e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                              Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                              Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                              Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                              Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                              Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                              Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                              Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                              \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                              \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                              \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                              \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                              \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                              \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                              \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                              \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                              \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                              \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                              Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                              2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                              3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                \r\n

                                                                                                                Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                \r\n

                                                                                                                Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                b. seni pertunjukan;
                                                                                                                c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                  \r\n

                                                                                                                  Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                  Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  \r\n

                                                                                                                  Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                  Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                  Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                  Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                  Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                  Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                  Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                  Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                  a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                  b. seni pertunjukan;
                                                                                                                  c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                  d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                  e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                  Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                  Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                  Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                  Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                  Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                  Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                  Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                  \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                  \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                  \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                  \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                  \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                  \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                  \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                  \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                  \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                  \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                  Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                  2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                  3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                    Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                    \r\n

                                                                                                                    Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                    Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    \r\n

                                                                                                                    Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                    Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                    Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                    Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                    Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                    Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                    Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                    Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                    a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                    b. seni pertunjukan;
                                                                                                                    c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                    d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                    e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                    Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                    Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                    Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                    Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                    Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                    Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                    Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                    \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                    \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                    \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                    \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                    \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                    \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                    \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                    \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                    \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                    \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                    Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                    2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                    3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                      Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                      \r\n
                                                                                                                      \r\n

                                                                                                                      Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                      Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      \r\n

                                                                                                                      Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                      Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                      Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                      Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                      Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                      Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                      Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                      Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                      a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                      b. seni pertunjukan;
                                                                                                                      c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                      d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                      e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                      Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                      Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                      Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                      Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                      Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                      Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                      Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                      \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                      \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                      \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                      \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                      \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                      \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                      \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                      \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                      \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                      \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                      Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                      2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                      3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                        Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                        \r\n

                                                                                                                        Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        \r\n

                                                                                                                        Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                        Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        \r\n

                                                                                                                        Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                        Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                        Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                        Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                        Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                        Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                        Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                        Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                        a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                        b. seni pertunjukan;
                                                                                                                        c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                        d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                        e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                        Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                        Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                        Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                        Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                        Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                        Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                        Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                        \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                        \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                        \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                        \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                        \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                        \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                        \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                        \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                        \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                        \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                        Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                        2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                        3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                          Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                          \r\n

                                                                                                                          Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          \r\n

                                                                                                                          Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                          Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          \r\n

                                                                                                                          Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                          Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                          Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                          Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                          Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                          Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                          Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                          Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                          a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                          b. seni pertunjukan;
                                                                                                                          c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                          d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                          e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                          Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                          Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                          Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                          Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                          Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                          Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                          Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                          \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                          \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                          \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                          \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                          \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                          \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                          \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                          \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                          \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                          \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                          Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                          2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                          3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                            \r\n

                                                                                                                            Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            \r\n

                                                                                                                            Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                            Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            \r\n

                                                                                                                            Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                            Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                            Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                            Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                            Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                            Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                            Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                            Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                            a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                            b. seni pertunjukan;
                                                                                                                            c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                            d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                            e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                            Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                            Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                            Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                            Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                            Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                            Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                            Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                            \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                            \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                            \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                            \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                            \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                            \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                            \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                            \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                            \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                            \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                            Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                            2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                            3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                              Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                              \r\n

                                                                                                                              Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              \r\n

                                                                                                                              Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                              Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              \r\n

                                                                                                                              Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                              Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                              Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                              Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                              Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                              Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                              Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                              Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                              a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                              b. seni pertunjukan;
                                                                                                                              c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                              d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                              e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                              Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                              Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                              Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                              Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                              Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                              Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                              Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                              \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                              \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                              \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                              \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                              \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                              \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                              \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                              \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                              \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                              \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                              Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                              2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                              3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                                \r\n

                                                                                                                                Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                \r\n

                                                                                                                                Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                \r\n

                                                                                                                                Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                                Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                                Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                                Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                                Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                                Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                                Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                                Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                                a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                                b. seni pertunjukan;
                                                                                                                                c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                                d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                                e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                                Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                                Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                                Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                                Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                                Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                                Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                                Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                                \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                                \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                                \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                                \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                                \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                                \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                                \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                                \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                                \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                                \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                                Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                                2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                                3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                                  \r\n

                                                                                                                                  Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  \r\n

                                                                                                                                  Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                  Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  \r\n

                                                                                                                                  Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                                  Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                                  Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                                  Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                                  Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                                  Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                                  Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                                  a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                                  b. seni pertunjukan;
                                                                                                                                  c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                                  d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                                  e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                                  Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                                  Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                                  Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                                  Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                                  Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                                  Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                                  Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                                  \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                                  \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                                  \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                                  \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                                  \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                                  \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                                  \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                                  \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                                  \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                                  \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                                  Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                                  2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                                  3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                                    \r\n

                                                                                                                                    Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    \r\n

                                                                                                                                    Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                    Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    \r\n

                                                                                                                                    Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                                    Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                                    Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                                    Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                                    Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                                    Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                                    Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                                    a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                                    b. seni pertunjukan;
                                                                                                                                    c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                                    d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                                    e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                                    Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                                    Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                                    Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                                    Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                                    Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                                    Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                                    Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                                    \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                                    \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                                    \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                                    \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                                    \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                                    \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                                    \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                                    \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                                    \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                                    \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                                    Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                                    2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                                    3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                                      \r\n

                                                                                                                                      Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      \r\n

                                                                                                                                      Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                      Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      \r\n

                                                                                                                                      Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                                      Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                                      Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                                      Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                                      Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                                      Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                                      Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                                      a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                                      b. seni pertunjukan;
                                                                                                                                      c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                                      d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                                      e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                                      Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                                      Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                                      Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                                      Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                                      Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                                      Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                                      Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                                      \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                                      \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                                      \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                                      \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                                      \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                                      \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                                      \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                                      \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                                      \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                                      \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                                      Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                                      2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                                      3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                                        \r\n

                                                                                                                                        Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        \r\n

                                                                                                                                        Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                        Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        \r\n

                                                                                                                                        Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                                        Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                                        Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                                        Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                                        Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                                        Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                                        Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                                        a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                                        b. seni pertunjukan;
                                                                                                                                        c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                                        d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                                        e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                                        Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                                        Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                                        Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                                        Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                                        Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                                        Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                                        Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                                        \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                                        \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                                        \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                                        \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                                        \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                                        \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                                        \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                                        \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                                        \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                                        \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                                        Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                                        2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                                        3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

                                                                                                                                          \r\n

                                                                                                                                          Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          \r\n

                                                                                                                                          Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                          Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          \r\n

                                                                                                                                          Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6936,"post_author":"1","post_date":"2020-07-19 11:41:50","post_date_gmt":"2020-07-19 04:41:50","post_content":"\n

                                                                                                                                          Kami selalu memanggil pria yang berada di pojok ruangan itu dengan kata \u2018Senior\u2019. Dirinya memang memiliki umur lebih tua dari pada kami. Tak hanya tua, dia juga sosok yang tenang, dewasa, dan mampu mendamaikan suasana. Gaya bercandanya pun masih masuk bagi kami yang lebih muda. Tapi sesungguhnya, kami memiliki nama khusus untuknya bukan hanya karena lebih tua, tapi uniknya dia dalam merokok.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Jakarta adalah kota yang besar, kota di mana uang dan pekerjaan melimpah. Gaya hidup pun menjadi lebih meningkat, apalagi kita yang bekerja di gedung-gedung bertingkat. Hal itu akhirnya mempengaruhi kami terkait selera rokok. Paling ya rokok putihan dan sigaret kretek mesin dengan merek terkenal.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Hemat menurut saya, semakin majemuk kota Jakarta, justru selera rokoknya malah makin mundur. Produk-produk yang tersedia makin itu-itu saja dan nyaris sulit untuk mencicipi merek-merek kretek lokal unik lainnya. Saya pun demikian, pada akhirnya harus berkompromi dengan hal itu.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Akan tetapi \u2018Senior\u2019 kami ini adalah orang yang berbeda. Dia bukan orang yang berasal dari kampung yang kemudian pindah bekerja di Jakarta. Sudah sejak lahir dia di sini, memang bukan keluarga betawi asli, tapi darah dan logat ibu kota sudah mengental kuat. 
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Orang yang kami kagumi dan segani itu memiliki citarasa rokok yang sangat unik. Ketika rekan sekantor memilih produk rokok yang umum, justru dia konsisten dengan produk yang tidak familiar di perkotaan.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Panggilan \u2018Senior\u2019 disematkan padanya sejak ia baru masuk di kantor ini. Pendahulu kami bercerita bahwa saat ia awal masuk kerja, ia makan siang bersama teman-temannya di kantin bawah. Ketika momen merokok tiba dan beberapa perokok di kantor mulai menghisap rokok di ruangan merokok, ia mengeluarkan satu produk rokok dengan warna bungkus biru yang asing bagi orang-orang.<\/em>
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Rokok itu memiliki nama Senior, sigaret kretek mesin asal Kudus. Gara-gara teman-teman sekantor takjub dan kaget ngelihat rokok si sosok ini, dari hari itulah, hari pertama dia bekerja, dirinya dipanggil dengan nama \u2018Senior\u2019.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Saya termasuk orang yang dekat dengannya. Beberapa kali saya coba untuk meminta rokoknya dan mencicipinya. Citarasanya manis dan memiliki sensasi pedas yang tidak terlalu tebal. Agak cukup aneh bagi lidah orang perkotaan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati rokok ini. 
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dari segi bungkus juga rokok ini sangat tidak umum bagi kalangan perkotaan. Tapi kalau boleh saya menyukai bungkus ini. Terkesan klasik dengan warna biru yang lugas serta tiga garis yang melintas. 
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dari cerita yang disampaikan \u2018Senior\u2019, rokok ini dia beli dengan harga sekitar 16 ribu rupiah saja untuk satu bungkusnya berisi 12 batang di market online. Kecintaannya terhadap rokok ini membuatnya harus menyetok rokok dan membelinya secara banyak di market online.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Wajar, rokok ini tidak sampai ke Jakarta. Produk ini akan mengalami pertarungan yang berat di sini. Rokok nikmat nan sederhana ini tidak layak dinikmati orang kota yang angkuh akan kehidupan. Biarlah dia berada di luar sana, di zona yang membutuhkannya. Jikalau harus ke Jakarta, ia akan tepat berada di tangan orang-orang spesial yang jumlahnya tak banyak. 
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Cerita tentang Senior ini adalah cerita tentang keunikan di kantor saya. Rupanya masih banyak hal-hal menarik yang tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat. Senior, begitu kami menamainya dan rokok idamannya yang sering saya minta. 
                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rokok Senior, Jakarta, dan Cerita di Baliknya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-senior-jakarta-dan-cerita-di-baliknya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-19 11:41:52","post_modified_gmt":"2020-07-19 04:41:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6936","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n

                                                                                                                                          Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6926,"post_author":"877","post_date":"2020-07-15 08:16:10","post_date_gmt":"2020-07-15 01:16:10","post_content":"\n

                                                                                                                                          Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kretek. Sejarahnya yang panjang membuat budaya kretek tidak saja telah merangkum pengetahuan dan kreativitas lokal yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          Kretek yang ditemukan di Kudus adalah warisan budaya yang sudah ada bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Lebih dari itu, kini budaya kretek telah menjadi bagian dari sistem pencarian hidup masyarakat yang menghidupi jutaan orang. Oleh karenanya kretek merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Nusantara ini.

                                                                                                                                          Apa itu warisan budaya takbenda? Meliputi segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan--serta alat-alat, benda (alamiah), artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya--yang diakui oleh kelompok, atau perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

                                                                                                                                          Warisan budaya takbenda ini, yang diwariskan dari generasi ke generasi, diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, sejarahnya, dan memberikan mereka rasa jati diri dan keberlanjutan, untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani.
                                                                                                                                          Wujud dari warisan budaya takbenda, meliputi:
                                                                                                                                          a. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
                                                                                                                                          b. seni pertunjukan;
                                                                                                                                          c. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
                                                                                                                                          d. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
                                                                                                                                          e. kemahiran kerajinan tradisional.
                                                                                                                                          Keberadaan warisan budaya takbenda harus terlindungi. Cara perlindungannya dengan pencatatan atau didaftarkan. Hal-hal yang harus dicatatkan dalam warisan budaya takbenda adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang mengungkapkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukung dari unsur kebudayaan, meliputi sejarah atau asal usul unsur budaya, komunitas pendukung, deskripsi terkait unsur budaya yang mengungkapkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam unsur budaya tersebut, hal-hal yang telah dilakukan untuk pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya, dan hal-hal yang akan dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian unsur budaya tersebut.
                                                                                                                                          Tujuannya, untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          Ketika warisan budaya takbenda dicatat, maka masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari, akhirnya melestarikan. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

                                                                                                                                          Warisan Budaya takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah \u201cTak kenal maka tak sayang\u201d.

                                                                                                                                          Selanjutnya pelestarian terhadap warisan budaya takbenda dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui pengemasan dan promosi. Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, warisan budaya takbenda dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi, internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          Kretek adalah hasil kreativitas masyarakat Indonesia yang mengolah sumber daya alam yang terkandung di bumi Nusantara. Bentuk kreatifitas berupa racikan atau ramuan tembakau dicampur cengkeh. Beberapa cerita yang beredar di masyarakat merujuk nama Haji Djamhari sebagai peracik pertama kretek, berasal dari kota Kudus (tahun 1870an). Tembakau dan cengkeh sebagai bahan racikan di peroleh dari hasil perkebunan rakyat (domestik) yang mempunyai kualitas dan kekhasan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          Jika merujuk pada teks susatra Jawa, kebanyakan disusun pada awal abad ke-19. Seperti tertulis dalam Centhini (1814), misalnya. Dalam ensiklopedi Jawa tradisi ini digunakan kata \u201cngudut\u201d, \u201ceses\u201d atau \u201cses\u201d sebagai istilah umum masyarakat Jawa menyebut kebiasaan mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar.
                                                                                                                                          Sedangkan istilah rokok baru umum digunakan belakangan pada akhir abad ke-19. Istilah rokok secara filologis berasal dari bahasa Belanda yaitu \u201cro\u2019ken\u201d . Ini adalah istilah orang Belanda untuk menyebut aktivitas mengisap pipa dan cerutu.
                                                                                                                                          Budaya kretek adalah temuan termuthakir dari sejarah evolusi budaya mengonsumsi tembakau dengan cara dibakar. Dalam catatan Darmawan Mangoenkoesoemoe yang berjudul \u201cBijdragen to de kenis van de Kretek-Stroojes Industrie in Het Regenchap Koedoes\u201d, sebelum digulung menggunakan kertas seperti bentuknya terkini, pada awalnya dikenal berbagai gulungan tembakau dengan daun atau kulit buah. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          Seperti rokok klobot adalah tembakau yang dibungkus dengan kulit jagung; rokok wangen atau rokok diko berasal dari daun nipah; rokok pupus berasal dari kulit pisang; sedang rokok kawung berasal dari kulit enau. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          Unsur estetis produksi kretek itu dikerjakan dengan tangan (hand made). Tahapan produksi ini dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Inilah sisi estetis kretek, selain bentuk dan cara melintingnya secara manual yang juga telah diwariskan antar generasi. Aktifitas nglinting dan mbatil serta bentuk kretek non-filter yang khas adalah bentuk kreativitas dan ketrampilan lokal yang juga patut dicatat. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          Untuk itu, keberadaan kretek sudah saatnya terdaftar dalam registrasi warisan budaya Nusantara yang kemunculannya berusia ratusan tahun. Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. <\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.<\/p>\n","post_title":"Kretek Salah Satu Warisan Budaya Takbenda di Negeri Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-salah-satu-warisan-budaya-takbenda-di-negeri-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-15 08:16:16","post_modified_gmt":"2020-07-15 01:16:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6926","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6918,"post_author":"919","post_date":"2020-07-12 11:29:10","post_date_gmt":"2020-07-12 04:29:10","post_content":"\n

                                                                                                                                          Tiba-tiba saya kembali mengingat pesepak bola menyebalkan yang pernah saya ketahui di era 90an. Namanya adalah Eric Cantona, pria asal Prancis yang bermain untuk klub yang paling saya benci, Manchester United. Lelaki dengan julukan King itu sungguh arogan. Akan tetapi Ada hal yang di kemudian hari sedikit mengubah cara pandang saya terhadapnya.

                                                                                                                                          \nPada salah satu hari di Agustus lalu saya menahan kantuk untuk menunggu tayangan streaming drawing Liga Champions. Rupanya ada Eric Cantona di sana mengisi pidato pembuka bak acara formil di berbagai kantor kementerian di Indonesia. Begitu kesal saya karena harus melihat dirinya berbicara.

                                                                                                                                          \nDengan menggunakan baju merah muda dan topi pet serta kacamata yang menggantung di kerah baju, Eric Cantona memasuki panggung. Gayanya tak lagi sama seperti kalau menendang penonton Crystal Palace beberapa tahun lalu. Dia kini lebih nampak layaknya seorang filusuf, yang dari mulutnya bisa mengeluarkan kalimat-kalimat bijak dan mempesona.

                                                                                                                                          \nBetul saja, bait-bait indah benar-benar mengalun dari mulutnya. Ia menyebut bahwa kemajuan sains dapat membuat manusia menjadi kekal dan hanya kecelakaan, kejahatan, dan perang, yang masih akan membunuh manusia. \u201cSaya suka sepak bola,\u201d begitu kutipannya menjadi penutup pidatonya malam itu.

                                                                                                                                          \nRupanya dahsyat benar Eric Cantona ini, itulah kalimat yang keluar dalam gumamku. Sebagai pesepakbola dirinya penuh dibalut kontroversi. Meski trofi mentereng menghiasi kenangan masa lalunya saat bermain di Inggris, sayangnya ia tak pernah mencicipi piala dunia. Bayangkan, seorang pemain hebat dari negara yang sepakbolanya maju tapi tak pernah merasakan bermain di ajang hebat dunia?

                                                                                                                                          \nDi era itu banyak pesepak bola yang tak malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang perokok. Memang tak ada foto yang menampakkan King Eric muda merokok. Justru foto dirinya merokok tersebar banyak saat ia menua. Ia nampak lebih elegan dengan rokok di tangan. Wibawanya kian keluar, lebih dan lebih saat memegang rokok ketimbang saat dirinya membusungkan dada usai mencetak gol.

                                                                                                                                          \nSuatu saat Eric Cantona pernah berpendapat tentang rokok. Ia menjawab pertanyaan seorang wartawan terkait dirinya yang memerankan peran dalam film sebagai seorang detektif Forgeat yang kebetulan seorang perokok.

                                                                                                                                          \nJawabannya sungguh hebat. Eric Cantona menyebut bahwa merokok adalah upaya proses manusia untuk memerdekakan diri. Dari merokok dia tahu bahwa detektif Forgeat mampu menjadi manusia yang bebas seutuhnya tanpa ada gangguan. Selama ini manusia hidup akan gangguan-gangguan yang acapkali mengguncang diri jika tidak mampu ditangani dengan baik. Begitu juga dengan para perokok yang harus berbenturan dengan stigma-stigma.

                                                                                                                                          \n\u201cBagi saya, saya tidak suka kalau ada terlalu banyak gangguan dalam hidup kita. Kita bukan anak-anak. Ini adalah hidup kita sendiri yang garisnya ada di tangan kita,\u201d begitulah apa yang disampaikan seorang King Eric saat diwawancarai oleh Kevin EG Perry.

                                                                                                                                          \nDari Eric Cantona sebenarnya kita dapat mempelajari makna kebebasan sebagai perokok. Jatidiri itu nampaknya mulai sulit untuk ditunjukkan setelah pola pikir di masyarakat terhegemoni dengan kampanye-kampanye bahaya merokok. Faktanya, banyak kampanye-kampanye tersebut yang sesat. Membiarkan kesesatan itu lama-lama pun akan membelenggu kita.

                                                                                                                                          \nSudah saatnya melawan dengan cara apa pun yang kita bisa. Selemah-lemahnya iman, kita bisa memulai dengan apa yang Eric Cantona sebut. Bahwa merokok adalah bagian dari pembebasan dan memerdekakan diri dari belenggu. Maka, jangan malu untuk tunjukkan jati dirimu sebagai perokok. Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Eric Cantona, Rokok, dan Kemerdekaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"eric-cantona-rokok-dan-kemerdekaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-12 11:29:15","post_modified_gmt":"2020-07-12 04:29:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6918","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n

                                                                                                                                          Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          1. Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
                                                                                                                                          2. Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
                                                                                                                                          3. Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};