\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300. <\/p>\n\n\n\n

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.<\/p>\n\n\n\n

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.<\/p>\n\n\n\n

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja. <\/p>\n\n\n\n

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.<\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, \u201cSome people feel the rain, others just get wet<\/em>,\u201d jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.<\/p>\n\n\n\n

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.<\/p>\n\n\n\n

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.<\/p>\n\n\n\n

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.<\/p>\n\n\n\n

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.<\/p>\n\n\n\n

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur'an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.<\/p>\n\n\n\n

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.<\/p>\n\n\n\n

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.<\/p>\n\n\n\n

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.<\/p>\n\n\n\n

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

\u201cUntuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole\u2019 yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum.........\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag.......\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cYang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok \u201cTjap Gajah\u201d. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!
<\/p>\n","post_title":"Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peran-rokok-kretek-saat-masa-revolusi-fisik-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-28 08:56:48","post_modified_gmt":"2019-03-28 01:56:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5579","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5573,"post_author":"883","post_date":"2019-03-26 09:09:04","post_date_gmt":"2019-03-26 02:09:04","post_content":"\n

Penyelenggaraan Pilpres 2019 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, artinya hari pencoblosan tinggal sebentar lagi. Sampai dengan hari ini belum ada tanda-tanda pasangan Capres-Cawapres dari kubu 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan kubu 02 (Prabowo-Sandi) akan menaruh perhatian pada isu Industri Hasil Tembakau (IHT).
<\/p>\n\n\n\n

Seperti yang sudah dibahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, kedua kubu bukannya menaruh perhatian pada isu IHT, justru malah menyoroti persoalan rokok dari aspek kesehatan<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang membahas nasib petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, pedagang, dan konsumen. Entah bungkam atau menghindar karena dilihat sebagai kontroversi.
<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi ini, tentu para stakeholder IHT dan kretekus sekalian kebingungan dalam menentukan pilihannya memilih pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu kali ini. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tapi jangan khawatir, dengan segala hormat, izinkan kami mengintervensi pilihan politik kalian dengan panduan memilih pasangan Capres-Cawapres di bawah ini. Berikut adalah panduannya:
<\/p>\n\n\n\n

1. Bedah Visi-Misi Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Visi-Misi pasangan Capres-Cawapres kubu 01 dan 02 dapat dengan mudah kalian akses di website resmi KPU. Di berbagai media massa juga berserakan informasi visi-misi kedua kubu. Baca dengan teliti apakah ada point visi-misi tersebut yang memiliki keterkaitan dengan sektor IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Oh iya, kalian juga dapat melihat pemberitaan di media massa yang biasanya dilontarkan oleh timses kedua kubu.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah ada? Kalau tidak ada, silahkan lanjut ke langkah selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

2. Lihat Track Record Kedua Kubu
<\/h2>\n\n\n\n

Di era digital seperti sekarang ini, jejak digital dapat menjadi bukti track record kedua pasangan Capres-Cawapres terkait sikapnya mengenai isu IHT. Silahkan kalian cek track record-nya baik dari pernyataan sikap maupun kebijakan yang pernah digulirkan oleh calon petahana.
<\/p>\n\n\n\n

Kedua pasangan ini tak memiliki track record seorang perokok. Artinya sudut pandang keduanya pastilah berdasarkan sudut pandang bukan perokok. Memang tidak semua bukan perokok itu membenci perokok. Karena baik perokok atau bukan perokok, jika ia adalah seorang calon presiden dan wakil presiden sudah seharusnya memahami konteks IHT secara komprehensif.
<\/p>\n\n\n\n

Nah yang harus dicek dengan teliti adalah kedua pasangan ini bukan perokok, lalu apakah diantaranya ada yang sampai pada tahap membenci? Atau bahkan turut terlibat dalam gerakan pengendalian tembakau. Track record ini yang harus dicek dengan teliti, agar kita mengetahui pandangan politik keduanya terhadap isu IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Apa? Kedua kubu ternyata memang tidak berpihak terhadap IHT? Oke tenang, langkah ketiga ini merupakan jurus jitu untuk menentukan pilihan ketika mencoblos pasangan Capres-Cawapres pada 17 April 2019 nanti.
<\/p>\n\n\n\n

3. Datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS)
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau 2 langkah tadi sudah dilakukan dan ternyata kedua pasangan Capres-Cawapres tidak ada yang memiliki perhatian dan keberpihakan kepada IHT, maka kalian tetap harus datang ke TPS masing-masing. Jangan lupa juga membawa pulpen.
<\/p>\n\n\n\n

Gunakan hak suara kalian di TPS, lalu ketika berada di bilik suara kalian dapat mencoblos keduanya, keluarkan pulpen yang kalian bawa lalu tulis besar-besar:<\/p>\n\n\n\n

\u201cMaaf Suara Kami Hanya Untuk Orang Yang Berpihak Kepada Isu IHT\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Nah itulah panduan memilih Capres-Cawapres bagi kretekus sekalian dari kami. Silahkan dilakukan dan disebarkan kepada kretekus lainnya, agar kedua kubu sadar bahwa suara kretekus yang berjumlah hampir 90 juta jiwa ini adalah orang-orang layak mendapatkan porsi perhatian dalam visi dan misi kedua kubu ke depannya
<\/p>\n","post_title":"Panduan untuk Kretekus Memilih Capres di Pilpres 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"panduan-untuk-kretekus-memilih-capres-di-pilpres-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-26 09:09:06","post_modified_gmt":"2019-03-26 02:09:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5566,"post_author":"919","post_date":"2019-03-23 11:38:15","post_date_gmt":"2019-03-23 04:38:15","post_content":"\n

Saya cukup beruntung dalam minggu ini bisa mengunjungi Jawa Tengah. Selama ini saya hanya sekedar melintas daerah yang kini dipimpin oleh politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo itu, baik menggunakan kereta atau bus malam. Kali ini. Perjalanan saya mengunjungi Jawa Tengah saya tujukan ke Semarang dan Temanggung.
<\/p>\n\n\n\n

Semarang sejatinya hanya menjati kota transit saja sebelum saya bertolak ke Temanggung. Alasannya sederhana karena soal jarak, kalau saya dari Jakarta menuju ke Temanggung via Yogyakarta, tentu itu akan memakan jarak tempuh yang cukup jauh. Sebaliknya, Semarang memberikan opsi baru untuk saya.
<\/p>\n\n\n\n

Punya satu hari berada di Semarang, saya tak mau melewatkan hari di sana dengan hanya beristirahat di tempat penginapan. Bagi saya, jika terdengar kata Semarang maka saya langsung terpikir tentang klub sepak bola PSIS Semarang. Tapi tidak, saya sedang tidak ingin menyaksikan klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut berlaga. Destinasi pertama dan utama saya kala mengunjungi Semarang adalah, Lawang Sewu!
<\/p>\n\n\n\n

Bukan karena menyaksikan video milik Atta Halilintar yang membuat saya ingin ke sana. Pertama kali saya tahu soal Lawang Sewu adalah dari menonton acara reality show \u2018Dunia Lain\u2019 saat masih menuntut ilmu di Madrasah. Acara yang dibawakan oleh Harry Panca (saat itu) tersebut bermuatan nuansa mistis dan mempunyai satu segmen didalamnya yang sangat terkenal yaitu Uji Nyali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Acara Dunia Lain memang menjadi tayangan yang fenomenal saat itu. Bisa saya pastikan jika ada survey ke seluruh masyarakat Indonesia tentang edisi favorit dari tayangan tersebut, pastinya adalah saat mereka mengunjungi dan melakukan Uji Nyali di Lawang Sewu. Acara tersebut juga membuat stigma saya tentang Lawang Sewu sebagai salah satu tempat menyeramkan di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, benarkah demikian? Saya tiba di Semarang Tawang sore hari dan cuaca cukup terik saat itu. Saya langsung mengunjungi Lawang Sewu untuk pertama kalinya. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di sana adalah takjub dengan kemegahannya, sangat indah memang. Setelah itu saya langsung membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan masuk ke dalamnya.
<\/p>\n\n\n\n

Gedung yang kini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ini memang tak banyak memberikan diorama-diorama yang keren seperti berbagai museum lainnya. Mohon maaf di beberapa titik masih terlihat kurang terawatbahkan dengan instalasi pameran yang terkesan seadanya, dalam batin saya apa memang orang-orang berkunjung ke sini hanya demi merasakan sensasi mistisnya?
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Lorong demi lorong saya lewati, ada beberapa titik yang memang mengundang decak kekaguman saya. Pertama ornament kaca di ruangan tengah bak bangunan-bangunan eropa. Ornament kaca tersebut sering mungkin dijumpai di beberapa katedral tua, namun meski sering melihat, kesakaralannya tak pernah saya sangsikan, termasuk yang ada di Lawang Sewu ini. Ornamen kaca ini memang bisa dikatakan termasuk warisan seni yang perlu dirawat, kabarnya sulit sekali menemukan seniman yang memang bisa membuat dengan bentuk seindah itu.
<\/p>\n\n\n\n

Titik kedua yang menjadi perhatian saya adalah pohon besar di bagian tengah komplek gedung Lawang Sewu yang mempesona. Ketika pertama kali memandang, saya mengira pohon itu adalah pohon beringin. Bentuknya saja besar dan dengan ranting serta daun yang sangat menyejukkan pengunjung yang berteduh dibawahnya. Tapi ternyata dugaan saya salah, pohon itu adalah pohon manga, ya sebuah pohon mangga yang mungkin bisa dikatakan tertua di Semarang. Andai saja saya dating pas musim buah, mungkin saya bisa merasakan buah mangga eksklusif dari lawang sewu.
<\/p>\n\n\n\n

Lelah mengelilingi bangunan Lawang Sewu, saya ingin beristirahat dan menikmari sebatang rokok. Suasananya cantik nian memang, sore yang hangat sangat indah sekali ditemani sebatang rokok, segelas kopi, di kawasan Lawang Sewu, beuuhh. Sebagai seorag perokok yang juga menjaga ketertiban, saya mencari area khusus merokok dan tempatnya memang cukup mudah dijangkau. Dia berada di dekat pohon mangga besar tadi. Namun sayangnya ruang merokoknya dibuat sangat sederhana saja meski letaknya di area terbuka. Seingat saya ada hanya ada satu hiasan yaitu tugu lokomotif tua yang berada disampingnya.
<\/p>\n\n\n\n

Senja perlahan-lahan mulai tenggelam, badan saya pun mulai ingin rebahan dan saatnya pergi ke tempat penginapan. Tapi ada satu pertanyaan saya yang mengganjal. Kok dari tadi saya tidak menemukan jalan masuk ke lorong bangunan Lawang Sewu yang dari dulu katanya angker.  Acara Uji Nyali di Lawang Sewu pun bertempat di sana dan menyajikan penampakan sesosok mirip kuntilanak.
<\/p>\n\n\n\n

Apes memang apes, gara-gara niatan saya yang cukup iseng itu, saat jalan pulang saya menemukan tempatnya yang dekat dengan gerbang keluar. Untuk yang belum pernah ke Lawang Sewu dan tiba-tiba bernasib apes sama seperti saya menemukan tempat itu, saya sarankan untuk tidak memandanginya selama lebih dari 30 detik, saya tak berani untuk menceritakan impresi saya selebihnya, hiiiiiiii\u2026
<\/p>\n","post_title":"Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"smoker-travel-lawang-sewu-ketika-mistis-dan-keindahan-dibalut-menjadi-satu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-23 11:38:18","post_modified_gmt":"2019-03-23 04:38:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5566","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5550,"post_author":"919","post_date":"2019-03-17 09:44:00","post_date_gmt":"2019-03-17 02:44:00","post_content":"\n

Ketika pemenang Oscar\u00a0 award 2019 ini telah diumumkan, saya kaget. Kok bisa film Green Books yang justru jadi pemenang. Dalam kondisi itu saya memang belum menyakiskan film tersebut, saya justru punya keyakinan bahwa film Black Panther atau Bohemian Rhapsody lah yang bakal menyabet gelar film terbaik tahun ini. Apalagi nama film terakhir cukup memberi pengaruh kepada publik. Buktinya? Banyak tuh yang mulai menyetel kembali lagu-lagu Queen, hehehe.<\/p>\n\n\n\n

Di malam penganugerahan Oscar Award, Green Book tak hanya mendapatkan gelar film terbaik di 2018, nominasi lainnya seperti original screenplay dan pemeran pendukung terbaik juga mereka menangkan. Sayangnya, tokoh utama di film tersebut, Tonny Lip Vallelonga yang diperankan oleh Viggo Mortensen tak menjadi yang terbaik. Pemeran film terbaik tentunya disabet oleh Rami Malek yang tampil hebat memainkan peran sebagai Freddie Mercurie dalam film Bohemian Rhapsody.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cigarettes After Sex, Benarkah Nikmat?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Film-film yang mengandung unsur politik memang merajai penganugerahan Oscar Award dalam tiga tahun terakhir. 2017 lalu, film moonlight tentang perjuangan keturunan afrika-amerika yang hidup dalam bisnis narkotika menjadi pemenangnya. Sedangkan tahun sebelumnya, The Shape of Water malah jadi pemenangnya. Film ini juga diangkap merepresentasikan sebagai perjuangan dari kaum minoritas di Amerika Serikat.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya apa yang membuat Green Book meniadi begitu istimewa? Film bergenre drama yang disutradarai oleh Peter Farelly ini memuat kisah yang memang istimewa, terlebih percakapan yang hadir sepanjang film bisa dikatakan sangat berkualitas. Secara pengambilan gambar, film ini memang tak serumit yang lainnya, akan tetapi kisah yang ditawarkan cukup membuat anda berdecak kagum.<\/p>\n\n\n\n

Bermula dari seorang pria keturunan Italia-Amerika bernama Tonny Lip Vallelonga \u00a0yang sedang mencafi pekerjaan baru. Pria yang sebelumnya bekerja di bar tersebut harus diberhentikan sementara karena bar tempat ia bekerja mengalami pemugaran. Pada dasarnya Tonny Lip Vallelonga adalah seorang yang sedikit rasis, namun pekerjaan barunya dengan tawaran uang yang cukup menggiurkan membuatnya harus bekerja menjadi seorang supir dengan majikan yang seorang pria berkulit hitam bernama Donald Walbridge Shirley atau Dr. Shirley.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dua Bungkus Kretek Pemberian Jagat Pico<\/a><\/p>\n\n\n\n

Awalnya Tonny Lip Vallelonga merasa ditipu karena ia sebenarnya bukan bekerja untuk seorang dokter. Dr. Shirley sejatinya adalah seorang pianis handal yang akan menjalani tur konsernya di Amerika Serikat. Tokoh yang diperankan oleh Mahershala Ali membutuhkan seorang supir yang tangguh serta mau menjadi asisten pribadi dan manajer turnya. Awalnya, Tonny Lip Vallelonga cukup kesal dan menolak pekerjaan itu karena dianggap terlalu berat dan berlebihan. Namun, rayuan maut dari sang majikan membuatnya mau ikut.<\/p>\n\n\n\n

Sepanjang perjalanan dan konser, pemandangan diskriminasi kepada kaum kulit hitam jadi konflik utama dalam film ini. Berbagai diskriminasi tersebut cukup membukakan mata hati Tonny Lip Vallelonga yang tadinya seorang rasis menjadi sosok yang toleran. Perubahan juga dialami oleh Dr. Shirley, kebiasaan-kebiasaan nyentrik yang dilakukan oleh supir sekaligus sahabatnya tersebut membuatnya menjadi sosok yang lebih cair dan tak kaku. Sekali lagi, film ini memiliki kekuatan dalam percakapan, tonton saja adegan saat Tonny Lip Vallelonga memakan Ayam KFC di dalam mobil, itu sangat menggemaskan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagai penutup, Tonny Lip Vallelonga yang menjadi tokoh utama dalam film Green Book adalah seorang perokok berat. Nyaris dalam film ini setiap scene yang menyorotinya mennggambarkannya sedang menghisap rokok. Bisa dikatakan ia adalah sosok perokok yang hebat dan memiliki kawan, kehidupan, hati, ketangguhan, dan perjalanan yang luar biasa.<\/p>\n","post_title":"Green Book dan Kisah Perjalanan Panjang Seorang Perokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"green-book-dan-kisah-perjalanan-panjang-seorang-perokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-17 09:44:06","post_modified_gmt":"2019-03-17 02:44:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5550","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n\n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n\n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n\n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n\n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n\n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":38},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};