\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};
\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Rokok di Indonesia Terlalu Mahal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-rokok-di-indonesia-terlalu-mahal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 15:05:21","post_modified_gmt":"2024-12-10 08:05:21","post_content_filtered":"\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Rokok di Indonesia Terlalu Mahal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-rokok-di-indonesia-terlalu-mahal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 15:05:21","post_modified_gmt":"2024-12-10 08:05:21","post_content_filtered":"\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Rokok di Indonesia Terlalu Mahal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-rokok-di-indonesia-terlalu-mahal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 15:05:21","post_modified_gmt":"2024-12-10 08:05:21","post_content_filtered":"\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Rokok di Indonesia Terlalu Mahal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-rokok-di-indonesia-terlalu-mahal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 15:05:21","post_modified_gmt":"2024-12-10 08:05:21","post_content_filtered":"\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Rokok di Indonesia Terlalu Mahal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-rokok-di-indonesia-terlalu-mahal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 15:05:21","post_modified_gmt":"2024-12-10 08:05:21","post_content_filtered":"\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Rokok di Indonesia Terlalu Mahal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-rokok-di-indonesia-terlalu-mahal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 15:05:21","post_modified_gmt":"2024-12-10 08:05:21","post_content_filtered":"\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Rokok di Indonesia Terlalu Mahal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-rokok-di-indonesia-terlalu-mahal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 15:05:21","post_modified_gmt":"2024-12-10 08:05:21","post_content_filtered":"\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Rokok di Indonesia Terlalu Mahal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-rokok-di-indonesia-terlalu-mahal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 15:05:21","post_modified_gmt":"2024-12-10 08:05:21","post_content_filtered":"\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Rokok di Indonesia Terlalu Mahal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-rokok-di-indonesia-terlalu-mahal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 15:05:21","post_modified_gmt":"2024-12-10 08:05:21","post_content_filtered":"\r\n

Tahun depan tarif cukai rokok kembali naik, entah berapa persentase kenaikannya tapi yang pasti harga rokok akan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Jika ada yang bilang bahwa harga rokok di Indonesia masih terlalu murah, mungkin dulu waktu sekolah mereka sering bolos atau tertidur di mata pelajaran matematika.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejatinya harga rokok di Indonesia itu sangat mahal, dilihat berdasar kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga jual rokok itu sendiri. Selama ini kelompok yang bilang bahwa harga rokok<\/a> di Indonesia terlalu murah menerapkan pandangan simplifikasi dalam nominal rupiah untuk harga jual atau beli sebungkus rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pandangan simplifikasi jelas-jelas salah, karena untuk mengukur suatu harga komoditas terhadap keterjangkauan masyarakat dibutuhkan variabel yang tidak sesimpel itu, apalagi rokok masuk ke kategori komoditas yang dapat menyebabkan inflasi. Kelompok yang memandang harga rokok dengan simplifikasi jelas terlihat mereka tidak mengerti mengenai indeks keterjangkauan yang diukur melalui \u201cRasio Price Relative to Income (PRI)\u201d atau rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara pernah mengatakan bahwa pernyataan rokok di Indonesia sangat murah adalah logika yang salah kaprah. Berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) atau kemampuan daya beli masyarakat, harga rokok relatif terhadap pendapatan masyarakat Indonesia tergolong tinggi, yaitu 2,9%.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara sederhana kita bisa ambil contoh begini: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS<\/a>), pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 sebesar Rp 59,1 juta atau setara US$ 4.174,9 per tahun. Artinya pendapatan rata-rata orang Indonesia setiap bulannya di kisaran 4,8 sampai 4,9 juta. Lalu jika rata-rata harga sebungkus rokok adalah Rp 25.000 dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pengeluaran untuk konsumsi rokok selama sebulan adalah Rp 750.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka orang Indonesia harus mengeluarkan 15% dari total pendapatan bulanan mereka untuk konsumsi rokok selama satu bulan. Itu baru hitungan sebungkus, bagaimana jika per hari 2 bungkus karena berbeda kebutuhan konsumsinya dengan yang lain.<\/p>\r\n

Indonesia Berbeda dengan Negara Lainnya<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Euromonitor pada tahun 2017 pernah merilis data bahwa pekerja di Indonesia harus bekerja lebih lama (60 menit) dibandingkan dengan pekerja negara lainnya untuk memperoleh 1 bungkus rokok, maka daya beli masyarakat Indonesia terhadap rokok cenderung rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Persoalan kemampuan daya beli masyarakat terhadap harga rokok juga pernah disorot oleh Ditjen Bea Cukai, bahwa jika harga rokok dilihat secara nominal absolut memang murah, tetapi kalau mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga rokok sudah mahal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Apa yang dikatakan oleh kelompok antirokok mengenai harga rokok di Indonesia tergolong murah adalah pernyataan yang tidak logis dan salah kaprah. Sejatinya harga rokok sudah mahal dan tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Maka jika kenaikan tarif cukai tahun depan benar-benar diterapkan, pemerintah akan mendorong masyarakatnya kepada jurang kemiskinan, sebab inflasi akan membesar serta Industri Hasil Tembakau<\/a> yang selalu berkontribusi terhadap penerimaan negara dan ketenagakerjaan akan terpuruk, mati seketika.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7038,"post_author":"919","post_date":"2020-08-23 10:13:26","post_date_gmt":"2020-08-23 03:13:26","post_content":"\n

Sebagai pecinta Rokok Djarum, hal yang paling menyulitkan adalah ketika harus memilih Rokok 76 Kretek atau 76 Filter. Dalam posisi ini kita seperti dihadapkan permasalahan untuk memilih memacari sang kakak atau adik. Tidak kembar sebenarnya, tapi keduanya memiliki sensasi dan citarasa yang berbeda.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Djarum 76 kretek lahir terlebih dahulu ketimbang 76 Filter. Sebagai seorang kakak, PT Djarum sebagai produsen rokok ini memang memiliki impian besar. Ibarat orang tua yang menaruh harapan dan impian besar pada anak pertamanya.
<\/p>\n\n\n\n

PT Djarum menyematkan Rokok Djarum 76 kretek ini dengan kategori flagship di kelasnya. Asal anda tahu, ketika sebuah produk telah dilabeli dengan kata flagship, maka produk tersebut jadi gambaran serius pemikiran dan hasil kerja keras sebuah perusahaan untuk dijual di pasaran.
<\/p>\n\n\n\n

Saya rasa label flagship itu bukan hanya gimmick semata. Rasa Rokok Djarum 76 kretek ini memang luar biasa. Pandangan opini pribadi saya menyebutkan bahwa kretek ini jadi simbol citarasa sesungguhnya dari PT Djarum. Lebih luasnya lagi saya katakan bahwa kretek ini jadi representasi nyata rokok khas kudusan.
<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan bagaimana dengan Rokok 76 Filter? Bagi saya rokok ini ibarat si adik yang supel dan pergaulannya luas. Rokok ini memang lahir di tahun 2011 lalu, tapi boleh dibilang kehadirannya selalu menempel sang kakak. Di mana ada 76 kretek di situ ada 76 filter.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa saya bilang 76 filter ini ibarat adik yang gaul? Lihat saja bungkus dari rokok ini. Jika harus membandingkan rokok ini dengan seluruh rokok yang diproduksi oleh Djarum maka 76 filter ini adalah yang terbaik. Penyematan warna emasnya, motif dan coraknya, pemilihan font, komposisi, semua benar-benar juara.
<\/p>\n\n\n\n

Secara rasa juga rokok ini terbilang umum, tidak bisa dibilang kudusan banget. Bahkan bagi para penikmat Rokok Gudang Garam Surya bisa dengan cepat beradaptasi untuk menikmati rokok ini. Wanginya juga tak sekuat 76 kretek, akan tetapi tarikan Rokok 76 Filter ini mungkin tak sehalus kakaknya.
<\/p>\n\n\n\n

Walau demikian, popularitas dan penikmat 76 kretek lebih banyak dibandingkan 76 Filter. Ya mungkin karena jatidiri Rokok 76 Kretek lebih kuat, citarasanya lebih baik, dan brandingnya juga sudah lama. Sedangkan Rokok 76 Filter, tak begitu sering saya melihat penggemarnya. Walau demikian salah jika ada anggapan bahwa produk ini tak laku. 
<\/p>\n\n\n\n

Secara harga di pasaran, Rokok 76 Kretek dihargai dengan 16 hingga 17 ribu rupiah, begitu juga dengan Rokok 76 Filter. Sungguh harga yang sangat worth it mengingat dengan mengeluarkan uang segitu bisa mendapatkan satu bungkus berisi 12 batang rokok dengan citarasa yang luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok 76 Kretek dan 76 Filter memang ibarat kakak adik yang saling melengkapi. Meski ketika masuk di pasaran, tentang mana produk yang paling banyak dibeli harus kembali pada selera orang masing-masing. Jika saya boleh bertanya pada anda, produk manakah yang akan anda pilih? 
<\/p>\n","post_title":"Senandung (Antara Rokok 76 Kretek dan Filter)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"senandung-antara-rokok-76-kretek-dan-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-23 10:13:29","post_modified_gmt":"2020-08-23 03:13:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7038","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7029,"post_author":"878","post_date":"2020-08-20 11:36:35","post_date_gmt":"2020-08-20 04:36:35","post_content":"\n

Mengapa momen hijrah Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah dipilih sebagai titik mula penanggalan hijriyah, sistem penanggalan berbasis peredaran bulan mulai dari terlihat sangat kecil, hingga purnama di tengah bulan, dan kemudian kembali mengecil hingga menghilang di akhir bulan sebelum ia muncul kembali dan bulan baru dihitung dari tanggal satu lagi. <\/p>\n\n\n\n

Mengapa bukan momen-momen lain yang banyak terjadi sepanjang sejarah kenabian Muhammad. Momen kelahiran Nabi Muhammad misal, seperti kalender masehi berbasis matahari dimulai dengan momen kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu yang bisa saya tanggap dari pemilihan momen hijrah sebagai awal mula penanggalan hijriyah, di sana titik balik sebuah kebangkitan dimulai. Titik balik dari pasif tanpa perlawanan menjadi mulai mengorganisasi perlawanan, titik balik dari diam-diam menjadi terbuka, titik balik dari keterpurukan menuju kemerdekaan hakiki. Momen titik balik ini memang layak dijadikan permulaan tahun dalam khazanah kalender hijriyah.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, momen hijrah, yang juga diperingati sebagai awal mula tahun dalam Islam, tahun baru Islam, menjadi sebuah momen perubahan oleh banyak dari mereka yang merayakannya. Momen hijrah digunakan sebagai penanda seseorang hendak berubah dari buruk menjadi baik, dari jahat menjadi tidak jahat, dari nakal menjadi tidak nakal, dari maksiat lantas meninggalkannya, dan ragam bentuk penanda perubahan-perubahan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Tahun baru, resolusi baru. Begitu biasanya manusia-manusia memaknai tahun baru. Pun begitu ketika tahun baru Islam dirayakan. Resolusi baru tersebut, seperti yang saya jabarkan di atas. Bentuknya adalah momen-momen hijrah dari keburukan ke kebaikan dan sejenisnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain resolusi personal, tahun baru Islam dirayakan oleh umat Islam dengan ragam bentuk kegiatan dan ibadah serta ritual-ritual tradisi menyesuaikan dengan lokasi tempat tradisi itu berasal. Ada parade perayaan tahun baru, zikir akbar, pengajian, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n

Dalam tradisi Jawa, tahun baru Islam bertepatan dengan perayaan Suro, tahun baru dalam kalender Jawa. Akulturasi antara Islam dan tradisi-tradisi Jawa menghasilkan perayaan tahun baru Islam dan Satu Suro yang beragam pula. <\/p>\n\n\n\n

Tahun baru dan Satu Suro kali ini, saya sedang berada di Kudus. Sore hari, jelang malam satu suro, saya melihat banyak orang-orang berbondong-bondong menuju ke masjid dan musala yang ada di lingkungan mereka. Orang-orang yang berkunjung ke masjid dan musala, lebih banyak dari biasanya, dari maghrib-maghrib pada hari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi korona tak menghalangi mereka berbondong-bondong menuju masjid-masjid dan musala-musala. Ada yang masih tetap berusaha memenuhi standar protokol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, dan ada pula yang sudah benar-benar mengabaikan. Masjid-masjid dan musala-musala mengadakan pengajian, doa-doa, dan tahlilan pada sore hari sebelum menyambut malam tahun baru Islam. <\/p>\n\n\n\n

Orang-orang berdoa bersama-sama dengan khidmat dan khusyuk. Beragam doa dan permohonan dipanjatkan. Satu doa yang di tahun baru sebelumnya tak pernah dipanjatkan, adalah doa agar negeri ini terbebas dari pandemi korona dengan segera.<\/p>\n\n\n\n

Kudus Kota Kretek bisa jadi memang sudah benar-benar merasuk dalam diri sebagian besar masyarakat Kudus, termasuk dalam ritual-ritual keseharian mereka. Tak hanya keberadaan rokok kretek pada saat hajatan, tahlilan, dan acara yang mengumpulkan orang banyak saja, pada momen satu muharam atau satu suro ini, kretek juga terselip dalam doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya ada tiga masjid di sekitar tempat saya tinggal yang menyebut-nyebut kretek dalam doa-doa yang mereka panjatkan. Doa itu berisi doa-doa tentang kebaikan kretek, kebaikan industri kretek, kebaikan para pekerja di bidang kretek, dan kebaikan petani-petani yang terlibat langsung dalam rantai produksi rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Momen hijrah ini juga dipakai dalam doa-doa dan harapan-harapan terhadap kretek. Dalam doa-doa yang dibacakan di masjid-masjid dan musala-musala, salah satu doa yang lantang saya dengar, berisi harapan semoga nasib rokok kretek hijrah, hijrah dari stigma-stigma buruk, dan usaha-usaha penggembosan terhadapnya, serta keuntungan yang kian berkurang karena banyak faktor, menuju kebaikan-kebaikan, karena kretek merupakan sumber penghidupan banyak orang, banyak sekali orang di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Di momen tahun baru Islam ini, saya mengajak kita semua para kretekus untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid dan musala-musala di Kudus ini, doa-doa untuk kebaikan kretek, agar hijrah dari bermacam keburukan ke kebaikan-kebaikan yang memang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n

Selamat tahun baru, Kretekus.<\/p>\n","post_title":"Tahun Baru dan Doa-Doa untuk Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-baru-dan-doa-doa-untuk-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-20 11:36:38","post_modified_gmt":"2020-08-20 04:36:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7029","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7023,"post_author":"1","post_date":"2020-08-16 08:44:06","post_date_gmt":"2020-08-16 01:44:06","post_content":"\n

Menikmati\nkretek juga berarti merayakan sebuah kesederhanaan. Tak perlu melulu menikmati\nsebungkus kretek dengan harga yang mahal, terkadang kita juga perlu merasakan\nproduk dengan harga sebaliknya. Salah satunya adalah rokok tuton, produk yang banyak\norang bilang memiliki kemiripan rasa dengan Djarum Super.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton sederhana di segala lini. Dari bungkusnya saja sudah tidak muluk-muluk.\nTidak ada eksperimen warna dan gradasi yang aneh-aneh. Cukup dengan warna\nmerah,hitam, dan tulisan berwarna emas. Dengan itu saja rokok ini sudah\nterlihat gagah.<\/p>\n\n\n\n

Ada\nistilah lama menyebutkan bahwa untuk menginginkan sesuatu maka kita harus\nmengukur baju kita sendiri. Begitu pula dengan Rokok Tuton ini. Menyasar\npenikmat rokok dengan harga menengah ke bawah, rokok ini pun tidak didesain\nmacam-macam. <\/p>\n\n\n\n

Satu-satunya\nkemewahan yang terdapat dalam bungkus produk ini barangkali hanyalah logonya.\nEntah logo dengan aset symbol apa di bungkus ini, akan tetapi bagi saya ini\nadalah kemewahan. Mengapa? Membuat logo produk adalah proses berpikir dan itu\ntidak sembarangan. Mungkin, butuh waktu, puasa, dan tirakat sebelum logo ini\njadi.<\/p>\n\n\n\n

Rokok\nTuton yang paling mudah ditemui di pasaran adalah Tuton SPR. Setahu saya, dulu\nmerek ini bernama Tuton Super. Bentuknya hampir mirip dengan Djarum Super.\nBarangkali, si produsen mendapat teguran dari PT Djarum dan alhasil kemudian\nberganti nama.<\/p>\n\n\n\n

Adalah\nCV Pusaka Hidup asal Demak yang membuat rokok tuton ini. Nah kan, lagi-lagi\nsederhana alias bukan pabrikan besar yang mengeluarkan rokok ini. Tak\nbesar-besar banget pabrik ini, tapi jika kita lihat di google, ada patung\npetani perempuan yang sedang menumbuk dan menyiangi sesuatu.<\/p>\n\n\n\n

Apakah\nkesederhanaan itu juga hadir di rasa rokok ini? Ini yang membuat saya sulit\nuntuk menjawab. Jujur rasa rokok tuton ini jauh di luar ekspektasi saya. Rasanya\nbenar-benar membuat saya lupa bahwa ini adalah rokok murah. <\/p>\n\n\n\n

Memang\nada kemiripan dengan merek yang saya sebutkan tadi. Akan tetapi pelan-pelan\njika kita merasakan hisapannya maka akan ada cita rasa berbeda yang terasa.\nWalau demikian citarasa berbeda tersebut tak stabil ditemui dari awal sampai\nterakhir hisapan.<\/p>\n\n\n\n

Aroma\nnangka masih menjadi hal utama yang kita temui di rokok tuton spr ini. Aroma\nnangka yang mungkin sama dengan Djarum Super, namun dengan penggunaan tembakau\nyang pasti berbeda. <\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n

Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n

Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n

Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n

Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n

Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n

Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n

Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n

Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. 
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6573,"post_author":"878","post_date":"2020-03-12 07:50:54","post_date_gmt":"2020-03-12 00:50:54","post_content":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Deposito dalam Bentuk Cengkeh Kering di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:21:25","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:21:25","post_content_filtered":"\r\n

Empat negara mencari dan mencoba cengkeh yang berada di Indonesia untuk kebutuhan mereka. Cengkeh, menjadi komoditi utama dan nilainya seperti emas.<\/em><\/p>\r\n

Hari-hari belakangan ini saya kembali teringat Mustafa. Salah seorang penduduk di Pulau Simeulue yang menyisihkan beberapa karung cengkeh tiap musim panen sebagai tabungan pendidikan untuk tiga orang anaknya yang tiga tahun lalu. Ketika saya berjumpa dengan mereka, usianya 13 dan 9 dan 4 tahun. Untuk hidup sehari-hari, selain mengandalkan hasil dari kebun cengkeh, Mustafa pergi melaut menggunakan perahu miliknya sendiri.<\/p>\r\n

Mustafa berharap anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuan dan terutama keinginan ketiga orang anaknya. Dengan tabungan cengkeh, ia yakin akan mampu membiayai sekolah ketiga anaknya hingga jenjang doktoral sekali pun. Usai mengetahui fakta itu, saya lantas bertanya kepada Mustafa, \u201cHarapan Bang Mustafa itu bukan karena Abang menganggap pekerjaan sebagai petani cengkeh dan nelayan itu pekerjaan yang tidak menjanjikan kan, Bang, atau pekerjaan yang nggak bergengsi?\u201d<\/p>\r\n

\u201cIni bukan perkara uang atau pekerjaan. Sama sekali bukan. Kalau pertimbangan itu saja, anak saya sekarang pun sudah tahu ke depan akan bekerja di mana, ya di kebun cengkeh, dan di laut. Saya mimpi, ketiga anak saya jadi petani dan nelayan yang punya kepintaran tambahan, bukan cuma pintar di kebun dan di laut, tapi pintar sekolah juga, sampai S3 kalau bisa. Itu saja.\u201d Ujar Mustafa menjelaskan.<\/p>\r\n

Singgah dan Bersua dengan Anak Mustafa<\/h3>\r\n

Perjumpaan pertama saya dengan Mustafa, hasil diplomasi warung kopi. Ketika saya berkunjung ke desa tempat Mustafa tinggal, tak ada seorang pun yang saya kenal di desa itu. Saya juga tidak membawa pemandu lokal. Seorang diri saya datang menumpang angkutan umum. Cara paling tepat dan cepat untuk bisa berkenalan dengan warga desa, saya kira di warung kopi. Maka saya berkunjung ke warung kopi di pusat desa. Betul saja, warung kopi ramai pengunjung. Kurang dari 30 menit saya sudah mengenal lebih separuh pengunjung warung kopi, dan sejam berikutnya saya sudah bertanding catur melawan Mustafa di warung kopi.<\/p>\r\n

Ketika akhirnya Mustafa mengundang saya berkunjung ke rumahnya, dan tinggal menginap di rumahnya selama saya melakukan riset perihal cengkeh<\/a> di desanya, respon dari anak Mustafa yang paling kecil membikin saya terkejut. Ia menangis usai mendengar cerita Mustafa perihal kedatangan saya ke rumah mereka. Sembari menangis anak itu berujar, \u201ckebun cengkehnya nggak dijual, jangan dijual. Nggak boleh!\u201d<\/p>\r\n

Mustafa tertawa, pun begitu dengan saya. Ia berpikir penelitian saya tentang kebun cengkeh sama saja dengan membeli kebun cengkeh milik Bapaknya. Tenang saja, nak, saya tidak sekaya itu sampai mampu beli kebun cengkeh berhektare-hektare, begitu saya membatin. Saya juga takjub, sudah sedari dini Mustafa menanamkan kecintaan terhadap cengkeh dalam diri anak-anaknya.<\/p>\r\n

Cengkeh, memang komoditas yang begitu menjanjikan di Indonesia. Sudah sejak lama seperti itu. Kali pertama cengkeh menjadi primadona di pasar dunia, membikin empat negara sekaligus hendak menjajah Nusantara. Belanda menjadi pemenangnya. Pamor cengkeh lantas turun setelah ditemukannya mesin pendingin.<\/p>\r\n

Nilai cengkeh kembali terdongkrak naik pasca produk rokok kretek ditemukan dan kemudian beredar hingga akhirnya menguasai pasar rokok nasional. Kretek, adalah rokok yang terdiri dari campuran setidaknya dua bahan utama, cengkeh dan tembakau. Tanpa keberadaan cengkeh, rokok itu tidak bisa disebut kretek.<\/p>\r\n

90 Persen Kebutuhan Cengkeh untuk Industri Kretek\u00a0<\/h3>\r\n

Hingga hari ini, lebih 90 persen hasil produksi cengkeh nasional diserap industri rokok. Sepemantauan saya, harga paling rendah cengkeh kering kualitas baik per kilogramnya Rp50.000. Itu jarang terjadi. Rerata harga cengkeh nasional per kilogram berada di angka Rp100.000.<\/p>\r\n

Kadang bisa mencapai Rp150.000 bahkan bisa lebih hingga pada angka Rp200.000. Petani cengkeh sejahtera. Cengkeh juga yang berada di garda depan pelestarian lingkungan. Kebun cengkeh yang menjelma hutan dipertahankan kuat-kuat oleh pemiliknya dari sebuah usaha merampas lahan guna membuka lahan pertambangan dan atau perkebunan sawit.<\/p>\r\n

\u201cSetiap musim panen, kami memanen emas. Tumbuh setahun sekali emas itu, tinggal dipetik. Tapi emas yang ini beda warnanya, cokelat, ya cengkeh kering<\/a> itu. Jadi, kalau sudah ada emas di atas, untuk apa gali-gali tanah lagi cari emas di bawah sana.\u201d Ujar salah seorang pemilik kebun cengkeh di Kepulauan Maluku.<\/p>\r\n

Di Aceh Besar, kabupaten lain di luar Simeulue yang juga menjadi sentra penghasil cengkeh di Aceh, tanaman cengkeh digunakan warga sebagai tameng dari upaya perampasan lahan oleh perusahaan perkebunan sawit dan pertambangan bahan baku semen. Sejak 2015 hingga saat ini, grafik luasan perkebunan cengkeh paling meningkat drastis secara nasional terjadi di Kabupaten Aceh Besar.<\/p>\r\n

Masyarakat yang menanami lahan mereka dengan cengkeh berpikir, cara paling mangkus dan sangkil guna melindungi lahan dari serbuan investor yang haus akan lahan adalah dengan cara memproduktifkan lahan mereka, mereka memilih cengkeh sebagai komoditas yang paling menjanjikan untuk memproduktifkan lahan.<\/p>\r\n

Rencana Jahat FCTC terhadap Cengkeh Indonesia<\/h3>\r\n

Sayangnya, ada rencana jahat yang hendak menghancurkan perkebunan cengkeh di negeri ini. Rencana jahat itu celakanya diinisasi oleh WHO, lewat sebuah skema bernama FCTC. Jika pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh akan kembali mengalami kejatuhan hingga titik terendah.<\/p>\r\n

Karena, salah satu pasal dalam FCTC menyebutkan bahwa dalam sebatang rokok yang boleh beredar di pasaran, haram hukumnya ada bahan baku lain selain tembakau. Ini berarti, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak bisa lagi diserap industri rokok. Sebuah bencana besar tentu saja, yang bukan tak mungkin akan menimbulkan huru-hara besar.<\/p>\r\n

Huru-hara yang juga pernah terjadi pada periode 90an. Ketika itu, pemerintah lewat BPPC memonopoli komoditas cengkeh. Harga cengkeh menurun drastis. Petani juga kesulitan menjual hasil cengkehnya. Hasilnya, kebun cengkeh ditebangi, sebagian dibakar warga karena dianggap sudah tidak berharga lagi. Tatanan sosial terganggu karena kondisi ini. Ke depan, jika FCTC diratifikasi, bukan tak mungkin huru-hara yang sama, atau bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi pada periode 90an akan terjadi. Dan negara akan kewalahan menghadapinya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6573","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};