Rokok di Indonesia terbungkus dalam dua kalimat menggiriskan: “merokok sebabkan kanker mulut” dan “dilarang menjual atau memberi pada anak usia di bawah 18 tahun serta perempuan hamil.” Dalam bungkus rokok tak ada kalimat semacam: “harum cengkeh nusantara mempesona masyarakat Eropa” atau “merokok menjernihkan nalar pikir.”

Selain melawan bungkusnya sendiri, rokok juga melawan cara berpikir yang kaku. Klaim rokok mematikan dirawat turun-temurun, tertanam dalam otak generasi tua hingga muda. Padahal, sebagian besar pemikir dan tokoh besar kecanduan rokok. Rokok telah memberi inspirasi pada tokoh-tokoh besar bangsa Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar dan Agus Salim.

Puntung rokok juga menghadapi realitas absurd. Dalam majalah Sonata edisi Februari 1979, termuat informasi berjudul “Karya Seni dari Puntung Rokok”. Tertulis di dalamnya: “tidak hanya dari peluru, maka maut pun dapat datang dari rokok. Bahaya rokok ini, telah dilukiskan oleh seorang pelajar sekolah menengah Canton High di Plymouth, dengan membuat karya seni, yang terdiri dari 4.500 puntung rokok. Puntung ini dikumpulkan selama tiga bulan dari rumah-rumah makan dan pelabuhan udara. Karyanya dinamakan Maut”. Bahkan untuk menjadikan rokok sebagai medium seni pun masih terkungkung fatwa kesehatan.

Bukan hanya fatwa kesehatan, agama pun turut mengungkungnya. Dua puluh satu tahun kemudian, tepatnya di tahun 2000, sebuah patung berjudul “Christ You Know it Ain’t Easy” dibuat Sarah Lucas sebagai perwujudan isi hatinya berperang melawan keinginan untuk merokok lagi. Lucas merokok sejak umur 9 tahun dan ia menghabiskan dua bungkus rokok setiap harinya. Peristiwa berhenti merokok diwujudkannya lewat patung Yesus yang dihias puntung rokok. Rokok bersiteru dengan agama. Kehadirannya seolah menurunkan kadar kesolehan para penganut agama di dunia. Lucas lantas meminta maaf kepada Yesus, menegaskan bahwa kecanduannya akan rokok merupakan bentuk ketidaktaqwaannya pada Tuhan. Lewat berhenti merokok, Lucas seolah lebih dekat dengan Tuhannya. Tidak lagi menjauh seperti dulu kala.

Fitnah rokok penyebab maut dirawat hingga sekarang. Padahal, jika kita lebih jeli, ada banyak penyebab maut lain yang mengintai. Lembaga riset The Lancet merilis data dari 195 negara, dalam kurun waktu 1990-2016 tentang penyebab kematian terbesar di dunia. Tercatat beberapa penyakit di sana: jantung, diabetes, stroke, dan diet. Penyakit Tuberkulosis lantaran kebiasaan merokok justru tak tertera dalam daftar utama. Ini membuktikan, setidaknya, ada banyak hal yang lebih baik kita jaga ketimbang melarang merokok, bahkan mengklaim rokok sebagai penyebab kematian. Kondisi jantung, sistem pencernaan, dan gaya hidup dengan asupan makanan tak sehat justru kurang diperhatikan.

Jika menghadapi anak kecil sembari merokok, kita selalu menghadapi perkataan tak mengenakan dengan nada seragam: menuduh rokok sebagai sumber kematian. Para orangtua sebagai sumber informasi pertama hanya menceritakan sisi rokok yang tidak baik saja. Rokok bisa membunuh orang sehingga mesti dijauhi.

Cerita-cerita yang beredar bukan tentang kehebatan Pramoedya Ananta Toer menulis buku dengan rokok di tangannya. Atau, bagaimana Chairil Anwar dan Agus Salim berpikir keras sekaligus keren dengan rokok sebagai teman setia. Tak sering pula cerita tentang masyarakat Eropa yang terpesona dengan harum cengkeh diperdengarkan. Hanya klaim rokok mematikanlah yang terus berkembang dan diamini begitu saja. Agar bisa berpikir sehat, kita wajib berpihak pada manfaat baik rokok. Perempuan pegunungan merokok hingga usia senja untuk menjaga staminanya bekerja di ladang. Pekerja mengonsumsi rokok sebagai selingan. Para pemikir menggunakan rokok sebagai sumber inspirasinya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun