Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n
Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n
Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n
Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian.
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n Waktu isya\u2019 tiba, suasana mau hujan, sedikit grimis, hawanya lumayan dingin dibanding sebelumnya panas dan gerah. Tapi semangat ngopi dam ngobrol teman-teman tak mengendor. Bahkan di group sudah ada yang ribut, ngajak-ngajak \u201cayo ayo waktunya kopdar tiba, ada bonus banyak rezeki lho\u201d, Rifai namanya, seorang pembicara atau muballig yang sering ceramah di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Aku datang sekitar jam 20.00, terlihat banyak tema yang sudah pada kumpul, didepannya ada segelas kopi. Maklum kita orang desa ngopinya gak pakai cangkir, tapi pakai gelas es yang tinggi. Dibenakku ini ngopi apa kehausan?, tapi yang penting tetap ngopi dan merokok. Di meja terlihat banyak rokok bermacam-macam mereknya, sesuai kesukaan masing-masing. Ada yang bawa Sukun Putih, ada yang bawa Gudang Garam, kebanyakan bawa LA, tapi ada juga yang bawa rokok bikinan sendiri alias \u201cTingwe\u201d nglinting dewe dirumah ditaruh plastik. Aku coba rokok tingwe itu sambil ngobrol bareng, ternyata lumayan enak ramuan rokoknya, dibanding tingwe tingwe yang pernah aku rasakan. Yang buat tingwe namanya Sutopo, profesinya sehari-hari memang jual beli tembakau. Karena penasaran, sutopo aku tanya, kok enak, ini tembakau mana?. Dijawabnya \u201cbiasa tembakau Temanggung\u201d tapi aku kasih cengkeh kualitas wahid, dan sedikit ramuan saos sendiri (bahannya dirahasiakan), yang jelas katanya bahan saos dari rempah rempah bikinan sendiri. <\/p>\n\n\n\n Ngobrol kita mengalir tanpa ada sekat dan batasan, malah terkadang pada ngobrol sendiri-sendiri dengan teman didekatnya. Giliran Djumari disuruh cerita pengalamannya, teman teman pada diam, mungkin pada penasaran. Soalnya dulu, sebelum ke Jakarta ia bekerja di Djarum. Ia ceritakan alasannya harus ke Jakarta. Awalnya, sering pulang pergi Jakarta Kudus untuk pengobatan istrinya yang sedang sakit di salah satu pengobatan alternatif disana atas rekomendasi saudaranya yang sudah lama hidup di Jakarta. Ia menceritakan sakit istrinya yang sering pusing, dan pusingnya bukan pusing biasa, dan seringkali istrinya sampai membentur-benturkan kepalanya. Kemudian, saat diharuskan kontinyu pengobatannya, minimal satu tahun agar cepat sembuh, akhirnya ia putusin meninggalkan Kudus sementara, termasuk pekerjaannya. Alhamdulillah istrinya sekarang sudah sembuh total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Cacat Pikir KPAI Memaknai Kata Ekploitasi Anak dan Promosi<\/a><\/p>\n\n\n\n Disela sela nungguin istrinya sakit, ia sering diajak saudaranya jualan sayuran keliling. Nah, walaupun sekarang istrinya sudah sembuh, ia tetap di Jakarta. Sebab dipikirannya, kalau kembali ke Kudus mulai dari awal lagi, mending yang sudah ada didepan mata dijalanin dulu. Nanti pelan-pelan sambil melihat peluang di Kudus, ia pun akan pulang. Obrolan tetap seru, walaupun djarum jam sudah tepat diangka 12.00 malam. Namun domain obrolan lebih pada Djumari sebagai nara sumber, ia menceritakan semua pengalaman dan kejadia yang ia lihat, sampai ia menceritakan berita kalau pabrik Djarum yang dulu pernah ia singgahi, sedang dipermasalahkan KPAI. Memang sebenarnya ia tak paham alur permasalahanya. Tahunya, KPAI gak suka bulu tangkis Djarum berjalan, memusuhi rokok. <\/p>\n\n\n\n Sebagai orang yang pernah menjadi karyawan Djarum, jadi wajar dan pantas kalau ia membela Djarum, apalagi ia asli Kudus. Saking semangatnya, ia ngomong \u201cnek aku dadi Djarum, tak tuku iku KPAI, paling ora tak lawan\u201d \u201candaikan aku yang punya Djarum, aku beli KPAI, paling tidak dilawan\u201d. Ada yang menyambar omongan, \u201csampek matek kuwe Djum, ogak bakal dadi bos Djarum\u201d \u201csampai mati kamu Djum, tidak akan jadi bos Djarum\u201d haha\u2026\u2026disambut dengan tawa klakaran teman-teman termasuk saya sendiri. Di sela-sela tawa, tuan rumah ngomong \u201cancen gawe gregeten, kenopo Djarum mung meneng, malah ngalah\u201d \u201cbikin gregeten, kenapa Djarum diam dan cenderung mengalah\u201d. <\/p>\n\n\n\n Nah, ternyata, banyak orang yang sangat simpati dan membela pabrik Djarum, terutama orang Kudus. Rata-rata mereka, tak tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperbuat. Sebagai manusia lemah, mereka hanya bisa marah yang terpendaam dalam hati, dengan melihat kejadian KPAI menyerang Djarum. Coba, andaikan mereka tahu kalau dibelekang KPAI ada kepentingan asing yang mengusik rokok kretek asli Kudus, yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Pastinya, pembelaanya lebih dari itu, bahkan mungkin mati-matian. Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Masih ingat kemarin, tulisan Djarum yang ada di kaos para atlit olahraga dipermasalahkan KPAI dan kawan-kawannya? Banyak orang-yang omong, ternyata ada orang kaya yang diusik, tapi dia hanya diam tanpa ada kata sedikitpun sebagai pembalasan terhadap yang mengusiknya. Bahkan cenderung mengalah, bikin orang lain gregetan. Kalimat itu yang aku tangkap dari salah satu temen bernama Nur Cholis asal Desa Gribiq, Kabupaten Kudus.<\/p>\n\n\n\n Seminggunan kemarin, tepatnya Minggu 25 Agustus, teman MTS dulu pulang dari Jakarta. Ia sehari-harinya beraktivitas dan bekerja di sana. Di Jakarta, bersama anak istrinya, yang setiap hari jualan sayuran keliling. <\/p>\n\n\n\n Kami yang sudah lama tidak ketemu, bahkan lebaran kemarin ternyata dia tak pulang ke Kudus. Pantesan tak ada yang rebut ngajak ngopi, orang yang biasa ngajak ngopi orangnya masih di Jakarta. Memilih lebaran di sana, karena dititipin rumah tetangganya yang katanya sudah seperti keluarganya sendiri yang kala itu baru mudik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n Temanku itu panggilannya Djumari, rumahnya dulu daerah Kaliwungu Kudus bagian barat. Ia pulang dalam rangka ada acara nikahan saudara dari istrinya. Dasar Djumari, kalau gak ngopi bareng dan ketemu temen-temen gak puas katanya, karena mumpung di Kudus. Ia gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan disela-sela acara nikahan saudaranya. Lewat pesan singkat WA, tanpa hitungan jam ajakan ngopi Djumari, langsung di respon banyak teman yang tergabung di group WA. Ada yang tanya kapan datangnya, ada yang komentar besuk aja ngopinya soalnya masih diluar kota, ada yang bilang sore ini aja tancap gas. Djumari menjawabi dan balas komentar teman-teman. Dihari itu, Djumari kayak artis banyak ajakan dan tawaran teman-teman. <\/p>\n\n\n\n Memang, teman-teman alumni MTS Madrasah Qudsiyyah Kudus kompak sekali, bahkan sudah kayak saudara sendiri semua. Kita sering kumpul walaupun hanya sekedar ngopi, yang penting bertemu dan ngobrol. Tidak jarang, kita ketemu dengan agenda acara resmi dan agak resmi. Seperti disaat salah satu teman punya hajat, bahkan hajat kecilpun kayak acara \u201cmanaqiban\u201d sering mengundang teman lainya. Pasti ada yang bingung apa itu manaqiban<\/em>?. Aku jelasin sebentar, manaqiban itu, acara membaca sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani ulama dahulu setelah masa Shahabat Nabi, yang terkenal alimnya dan sufi serta berkaromah. Nah, bagi kita-kita penggemarnya, sering kali kita baca sejarahnya. Dengan cerita sejarah Syeih Abdul Qodir Jaelani, kita penggemar berharap agar apa yang kita lakukan dido\u2019akan atau di amini beliau semua urusan kita lancar. Karena menurut kita penggemar, meyakini Syeih Abdul Qodir Jaelani kekasih Tuhan, kalau dalam bahasa Jawa \u201cbolone Gusti Allah\u201d. Ini sekilas penjelasan tentang istilah manaqiban<\/em>, kalau mau tau lebih lanjut, khasiat-khasiatnya, bisa kita diskusi dilain waktu aja. Yang jelas di acara manaqiban<\/em> ini sudah jadi tradisi ada \u201cingkung\u201d ayamnya. Ini yang biasa kita nantikan.<\/p>\n\n\n\n Kembali ke acara ngopi, disore itu temenku Djumari langsung nentukan tempat ngopi dan waktunya. Kita biasa ngopi ditempat sederhana. Akhirnya, Djumari mutusin habis isya\u2019 kumpul dan ngopi di rumah teman kita satunya namanya Nur Cholis, juga tergabung dalam group WA. Setelah tahu bakal kerumahnya, Nur Cholis langsung komen, lapan enam laksanakan. Aku langsung teringat temenku namanya Fawaz, orang Betawi keturunan Arab, sering kalau jawab pas di WA pakai tulisan lapan enam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Cerita di Balik Segelas Kopi untuk Djarum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cerita-di-balik-segelas-kopi-untuk-djarum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-03 09:19:00","post_modified_gmt":"2019-09-03 02:19:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6014","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6014,"post_author":"877","post_date":"2019-09-03 09:18:50","post_date_gmt":"2019-09-03 02:18:50","post_content":"\n