RagamREVIEW

Mengenal 3 Pabrik Rokok Terbesar di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki industri hasil tembakau terbesar di dunia. Bukan hanya menyoal luas dan lahan dan produktivitas perkebunan tembakau saja, melainkan juga pabrik-pabrik rokok yang sangat besar dan berpengaruh terhadap perekonomian nasional.

Hingga saat ini perusahaan-perusahaan rokok yang ada di Indonesia memberikan sumbangsih penyerapan bahan baku tembakau dan cengkeh yang mana terdapat hampir 3 juta orang yang hidup dari sektor perkebunan ini. Selain itu terdapat jutaan orang yang bekerja sebagai buruh produksi, distribusi hingga perdagangan dari bisnis ini.

Berikut ini adalah profil 3 perusahaan rokok terbesar di Indonesia:

Sampoerna

pabrik rokok sampoerna

Pabrik rokok Sampoerna tampak dari atas (foto: bisnis.com

Berdiri sejak tahun 1913, Sampoerna merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Sampoerna memiliki produk legendaris Dji Sam Soe, brand yang sangat terkenal pada segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT). Pada awalnya Liem Seeng Tee mendirikan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk di rumahnya di Surabaya. 

Lalu di tahun 1930, Liem Seeng Tee memindahkan keluarga serta pabriknya ke sebuah kompleks bangunan di Surabaya yang sekarang dikenal dengan sebutan “Taman Sampoerna”. Seiring berjalannya waktu, bisnis rokok Sampoerna terus membesar hingga dilanjutkan tongkat estafetnya kepada generasi kedua keluarga Sampoerna, yaitu Aga Sampoerna.

Di bawah pimpinan Aga Sampoerna lahir produk-produk Sampoerna lainnya, seperti Sampoerna Hijau dan Sampoerna A Mild. Bisa dibilang Sampoerna menjadi inisiator kategori Sigaret Kretek Mesin Kadar Rendah (SKM LT) di Indonesia dengan memperkenalkan produk Sampoerna A Mild pada tahun 1989. 

Pada tanggal 14 Maret tahun 2005 Sampoerna diakuisisi oleh Philip Morris. Kala itu Philip Morris membeli 1.753.200.000 lembar saham dengan harga Rp 10.600 per lembar atau senilai Rp 18,58 triliun. Jumlah tersebut sama dengan 40 persen saham yang diakuisisi oleh Philip Morris hingga akhirnya perlahan-lahan Philip Morris menguasai 100 persen saham Sampoerna.

sampoerna evolution

Salah satu produk Sampoerna

Philip Morris adalah produsen rokok asal Amerika Serikat dengan keahlian pada produk rokok putih seperti Marlboro, Virginia Slims, dan Benson & Hedges. Bagi perusahaan itu, investasi di Sampoerna adalah kesempatan besar untuk masuk dalam jajaran lima besar dunia dengan memulai mempelajari industri rokok kretek.

Kini Sampoerna selama lebih dari 10 tahun memimpin pasar rokok Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 32,2% pada tahun 2019. Sampoerna menjadi anak perusahaan dari PT Philip Morris Indonesia (PMID) dan afiliasi dari Philip Morris International Inc. (PMI). 

Menurut data yang ada, Sampoerna memiliki total 23.000 karyawan tetap di Sampoerna dan anak perusahaan. Selain itu, Sampoerna juga bekerja sama dengan 38 Mitra Produksi Sigaret (“MPS”) yang pabriknya tersebar di pulau Jawa dan secara bersama-sama mempekerjakan sekitar 37.700 orang dalam memproduksi produk-produk Sigaret Kretek Tangan (SKT).

Gudang Garam

pabrik rokok gudang garam

pabrik rokok gudang garam (foto: WikiPedia)

Logo gudang di pinggir jalan kereta api merupakan logo ikonik yang melekat pada brand Gudang Garam. Perusahaan rokok terbesar di Indonesia didirikan pada tahun 1958 di kota Kediri, Jawa Timur. Pendirinya adalah Surya Wonowidjojo yang berasal dari Fujian, Cina. 

Surya Wonowidjojo memulai bisnisnya dari bekerja di perusahaan rokok sang paman. Sekitar tahun 1920, Surya pindah dari Fujian (Tiongkok) ke Sampang, Madura. Ketika berumur 20 tahun dia bekerja di pabrik rokok Cap 93 yang dimiliki oleh Tjoa Kok Tjiang, sang paman.

Berbekal pengalaman dan pengetahuan selama bekerja itulah, Surya memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan rokoknya sendiri saat berusia 35 tahun bersama 50 mantan karyawannya. Lokasi pabrik Surya berada di Jalan Semampir II/l, Kediri, dengan luas kurang lebih 1000 m². Mereka mendirikan pabrik rokok klobot dengan label Ing Hwie. Inilah cikal-bakal lahirnya Gudang Garam.

Surya memimpin pabrik ini hingga akhir hayatnya. Setelah kematian Surya, tongkat estafet bisnis beralih ke generasi kedua, yakni putra pertamanya yang bernama Tjoa To Hing atau Rachman Halim (kakak Susilo) meneruskan kepemimpinan pabrik rokok keluarga yang nantinya dikenal dengan nama Gudang Garam itu. Rachman wafat pada 27 Juli 2008.

rokok gudang garam internasional

Setahun setelah kematian Rachman, Susilo yang kala itu berposisi sebagai wakil presiden direktur ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Gudang Garam menggantikan kakaknya. Susilo sendiri sudah menjabat sebagai salah satu direktur sejak 1976 hingga 1990. Susilo Wonowidjojo sudah lama berperan penting dalam membesarkan Gudang Garam dengan berbagai terobosan yang dilakukannya. Tahun 1979, misalnya, ia mengembangkan mesin khusus untuk memproduksi rokok kretek

Kemudian pada 2002, rokok kretek mild –yang mengandung nikotin dan tar berkadar lebih rendah– pertama hadir lewat hasil pikir Susilo. Bersama rekannya yang bernama Buana Susilo, ia bahkan merumuskan penemuan mengenai metode memproduksi filter rokok dan mendapatkan hak paten di Amerika Serikat pada 2002. 

Hasil riset Susilo dan Bhuana ini menjelaskan cara pembuatan rokok saring dalam arah memanjang yang sedikitnya terdiri dari dua bagian saringan yang berbeda. Gudang Garam semakin melesat sejak Susilo memimpin. Hingga tahun 2013, ia mengelola setidaknya 208 hektar area produksi yang tersebar di Kediri dan Pasuruan. Seperti dilansir Bloomberg, Gudang Garam menguasai seperlima pasar tembakau di Indonesia dan mempekerjakan sekitar 36.000 pekerja.

Djarum

pabrik rokok djarum

Buruh lining SKT Djarum

Berawal di tahun 1951, Oei Wie Gwan, seorang pengusaha Tionghoa-Indonesia, mengambil alih sebuah perusahaan rokok yang hampir gulung tikar di Kudus, Jawa Tengah. Perusahaan tersebut bernama NV Murup dan memiliki produk dengan merek Djarum Gramofon. Oleh Oei Wie Gwan merek tersebut disingkat menjadi Djarum.

Djarum pernah nyaris punah pada tahun 1963. Kebakaran besar menghancurkan pabrik rokok yang berpusat di Kudus, Jawa Tengah, ini.

Setelah kebakaran besar pada tahun 1963, dua putra dari Oei Wie Gwan, yakni Budi dan Bambang Hartono, mencoba membangun kembali perusahaan yang luluh lantak. Dengan menghadapi berbagai problematik, akhirnya sejarah Djarum bisa berlanjut.

Pada mulanya, sebagaimana perusahaan jaman dahulu, Djarum juga belum dilengkapi dengan teknologi mesin. Produk unggulan mereka adalah sigaret kretek tangan (SKT), yakni rokok kretek yang dibuat dengan metode manual menggunakan tangan manusia. Produksi mereka terbilang besar. Sejarah itulah yang melahirkan buruh linting rokok Djarum yang terampil.

Memasuki awal tahun 1970-an, Djarum mulai memperkenalkan teknologi mesin. Maka lahirlah produk sigaret kretek mesin (SKM). Dengan bantuan teknologi mesin, kuantitas produksi Djarum secara otomatis turut meningkat.

Peningkatan kuantitas produksi yang dilakukan Djarum juga diikuti dengan pengembangan kualitas. Hal itu dibuktikan dengan berdirinya Research and Development Center untuk peningkatan mutu bahan baku dan citarasa produk-produk mereka. Tak ayal, tahun 70-an adalah momentum bagi perusahaan Djarum. Pada tahun 1972, mereka mulai mengekspor kretek buatannya ke berbagai negara.

Ada yang mengatakan kalau teknologi menggeser tenaga kerja manusia. Namun hal itu tampaknya tidak berlaku bagi Djarum. Djarum awalnya menggunakan metode lintingan yang dikerjakan oleh buruh terampil untuk membuat rokok. Lalu pada tahun 1970, mereka beralih menggunakan mesin. Bukan mengurangi karyawan, Djarum justru terus menggerakkan perekonomian kota Kudus.

djarum super

Hingga kini tercatat, Djarum bersama perusahaan mereka lainnya telah memiliki lebih dari 100 ribu karyawan. Djarum sendiri misalnya, pada tahun 2019 telah mempekerjakan 75.000 karyawan di 28 pabrik mereka.

Pasar perokok yang besar di Indonesia, juga diimbangi dengan kualitas bahan baku serta inovasi untuk menghasilkan citarasa premium khas Djarum, mereka perlahan tumbuh dan membesar. Kini, tak bisa disangkal kalau Djarum adalah salah satu raksasa industri rokok di Indonesia.

Melihat sejarah Djarum, banyak yang tak menyangka kalau perusahaan yang nyaris punah ini ternyata bisa membangun sebuah grup perusahaan besar. Tapi, sektor rokok tetap jadi andalan. Maka tak heran jika yang terlintas di kepala setiap orang ketika mendengar nama Djarum, ya rokok.

Nama-nama beken di dunia rokok, seperti Djarum Super, Djarum Coklat, dan LA Lights, sudah memiliki konsumen yang loyal. Merek-merek tersebut sangat kompetitif di kelasnya masing-masing. Bahkan, Budi dan Bambang Hartono kini menjadi salah dua orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Ketua Komite Nasional Pelestarian Kretek

    Comments are closed.

    More in:Ragam

    Next Article:

    0 %