Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n
Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun. Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai. Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun. Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan. Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai. Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun. Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok. Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan. Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai. Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun. Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%. Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok. Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan. Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai. Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun. Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan. <\/p>\n\n\n\n Keempat<\/em>, baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek. Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%. Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok. Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan. Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai. Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun. Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak. Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu. Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n