\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6077,"post_author":"877","post_date":"2019-09-18 10:30:14","post_date_gmt":"2019-09-18 03:30:14","post_content":"\n

Sekiranya ada 3 varian rokok yang beredar di pasaran. Ketiganya punya ciri khas sendiri-sendiri dan menjadi pembeda. Perbedaanya sangat signifikan, sehingga perlakuannya pun harus dibedakan. Karena memang beda, sehingga tidak bisa disamakan, walaupun ada sedikit kemiripan. Tiga varian tersebut rokok kretek, rokok putih dan rokok elektrik. Pastinya rokok kretek beda dengan rokok putih, beda jauh dengan rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/em>; rokok kretek asli Indonesia, diciptakan anak bangsa bernama H. Djamhari asal Kudus, Jawa Tengah, yang awalnya untuk mengobati bengeknya pada tahun 1870. Diproduksi massal di dalam negeri dengan melibatkan banyak orang dan tergolong industri padat karya. Bahan bakunya diambil dari para petani yang tersebar di seluruh Nusantara. Bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh, yang diolah,  dicampur dan diproses dengan keahlian tertentu. <\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan keahlian memproses tembakau dan cengkeh didapat secara turun temurun melalui pembelajaran. Pada akhirnya, merokok dan membuat rokok menjadi budaya masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun. Perkembangannya, rokok kretek penuh inovasi, awalnya dibungkus pakai daun jagung kering disebut klobot, kemudian pakai kertas khusus dinamai \u201cpapier\u201d. Awalnya tanpa filter, selanjutnya berfilter. Yang pasti, semua bentuk rokok yang bercengkeh itulah yang dinamakan rokok kretek atau \u201csigaret kretek\u201d. Bentuknya ada yang konus ada yang bulat rata. Diameternya pun banyak jenis. Ada yang kecil dan ada yang agak besar. Tiap beda bentuk rokok yang beda bulatannya sangat mempengaruhi rasa.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Cukai Rokok Sebesar 23 Persen Berdampak Kerugian bagi Pemerintah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/em>; beda dengan rokok putih, yang hanya menggunakan tembakau saja tanpa cengkeh, biasa orang menyebutnya \u201crokok putihan\u201d atau \u201crokok putih\u201d. Kertas sebagai pembungkusnya pun beda dengan kertas pembungkus rokok kretek. Tekstur kertas rokok putih agak lentur, jika dilengkung kira-kira sampai empat puluh lima derajat <\/sup>tak akan putus. Beda rokok kretek, kertasnya agak keras, lengkungan belum sampai lima belas derajat <\/sup>rokok akan patah.  Produksi rokok putih mayoritas di luar negeri, bahan utamanya tembakau luar negeri. Jelas dari produksi dan bahan yang digunakan, sama sekali tidak ada campur tangan orang Indonesia. Rokok putih asli produk luar Negeri salah satunya Negara Amerika serikat. Yang awal kemunculannya tidak untuk pengobatan. Rokok putihan inilah, dahulu sebagai uji riset rezim kesehatan di Amerika, yang hasilnya konon tidak menyehatkan dan membahayakan bagi tubuh manusia. Kemudian hasil riset tersebut diadopsi rezim kesehatan di Indonesia sampai sekarang dan dipergunakan dalil untuk kampanye anti rokok. <\/p>\n\n\n\n

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara rokok kretek dan rokok putih, yaitu dari jenis bahan bakunya dan campurannya. Inilah yang harus dipahami dan diketahui masyarakat pada umumnya, terlebih rezim kesehatan dan pemerintah Indonesia. Agar tau dan mengerti apa itu rokok kretek dan perbedaannya dengan rokok putih. Jadi, rezim kesehatan dan anti rokok selama ini, belum bisa membedakan rokok kretek dan rokok putih. Kenyataannya, dalil yang dipakai untuk kampanye anti rokok masih mengadopsi dari uji riset hasil rokok putih yang jauh berbeda dengan rokok kretek, baik dari sejarahnya, bahan bakunya bahkan manfaatnya. Menurut dr Sutiman, senyawa tembakau dan senyawa cengkeh bertemu melalui proses pembakaran sempurna bermanfaat untuk mengobati tubuh manusia. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>; sangat jauh berbeda dengan rokok elektrik, dengan menggunakan sistem kelistrikan dalam proses pembakaran bahan gabungan uap dan aroma hasil fermentasi tembakau dan buah-buahan. Diproduksi di Amerika Serikat. Salah satu jenis dan mereknya ada Vape, JUUL dan lain sebagainya. Sistem pembakaran dengan menggunakan listrik, dan hasil fermentasi inilah yang kemudian Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberitakan CNBCindonesia.com pada tanggal 14 September 2019, akan menghapus dan melarang peredaran rokok elektrik di Amerika Serikat. Menurut Trump rokok elektrik telah menjadi masalah bagi Amerika. Negara Amerika berani dengan tegas melarang peredaran rokok elektrik, Indonesia harusnya juga segera melarang peredarannya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, rezim kesehatan di Indonesia salah lagi. Kemarin katanya rokok elektrik lebih menyehat dengan banyak dalil, buktinya Negara asalnya aja sudah melarang. Terus apa yang akan rezim kesehatan lakukan?. Ini salah satu kesalahan fatal ketiga rezim kesehatan di Indonesia. Keselahan fatal pertama tidak bisa membedakan rokok kretek dengan rokok lain. Kesalahan kedua, menggunakan dalil yang mengadopsi hasil uji riset dari Amerika sebagai bahan kampanye anti rokok di Indonesia. Sedangkan sebagai bahan uji riset tersebut jelas bukan rokok kretek. Karena fungsi awal rokok kretek sebagai media pengobatan.        <\/p>\n\n\n\n

Tiga varian rokok di atas tidak bisa disamakan dalam perlakuannya. Memang seakan-akan ada kemiripan, tapi berbeda, mengingat bahan utama tiga varian rokok tersebut sangat jauh berbeda. Ambil contoh mirip cara mengkonsumsinya dengan dihisap, sama-sama pakai istilah nama tembakau. Akan tetapi, tembakau yang digunakan sebagai bahan baku, jenis dan prosesnya beda jauh. Tak hanya itu, sejarah kemunculannya ke tiga varian rokok tersebut tak ada kesamaan. Rokok kretek untuk pengobatan, rokok putih media rekreasi dan rokok elektrik sebagai fashion. 
<\/p>\n","post_title":"Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbedaan-varian-rokok-yang-beredar-di-pasaran","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-18 10:30:22","post_modified_gmt":"2019-09-18 03:30:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6077","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6050,"post_author":"919","post_date":"2019-09-11 10:18:05","post_date_gmt":"2019-09-11 03:18:05","post_content":"\n

Saya sudah terbiasa menyaksikan berbagai perusahaan rokok menjadi dinamo penggerak kemajuan olahraga di Indonesia. Kita pernah tahu dulu ada Dunhill, Kansas, Djarum, bahkan Dji Sam Soe yang menjadi sponsor besar liga sepak bola Tanah Air. Sebelum PP 109 hadir dan ada aturan keras industri rokok merambah ke dunia olahraga, saya rasa sepak bola Indonesia berjalan baik dan menghasilkan Timnas yang berkualitas pula.
<\/p>\n\n\n\n

Akibat adanya peraturan yang mengharamkan industri rokok mencampuri urusan olahraga, nampaknya ada sedikit kemunduran di dunia tersebut. Sekali lagi saya memberi contoh dari dunia sepak bola, masuk final dan menjadi raja di Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Selain itu liga kita juga kerap bergonta-ganti operator serta sponsor. Liga 1 yang sudah berjalan dua musim misalnya, di awal kehadirannya ia disponsori oleh Gojek dan Traveloka lalu cabut dan digantikan oleh Shopee. Masalah terakhir ini sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan sederhana bahwa tak banyak perusahaan yang mau total membina olahraga apalagi dengan gelontoran dana yang besar.
<\/p>\n\n\n\n

Saya masih melihat bahwa industri apapun harus memiliki andil terhadap kemajuan masyarakat di suatu bangsa. Umumnya menggunakan dana corporate social responsibility atau yang familiar disebut CSR. Toh juga CSR juga sudah diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh perusahaan di Indonesia wajib mengeluarkan dana untuk kemajuan masyarakat. Lantas mengapa perusahaan rokok yang juga melakukan kewajiban memenuhi undang-undang selalu mendapatkan perlakuan yang negatif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab<\/a><\/p>\n\n\n\n

Para antirokok selalu mengedepankan moralitas yang menjadi pendirian teguh mereka menentang segala upaya baik yang dilakukan industri rokok. Alasannya, rokok tidak menyehatkan dan tidak boleh cawe-cawe di urusan olahraga. Ya kalau begitu alasannya kenapa mereka juga tidak bertindak tegas kepada perusahaan-perusahaan besar yang telah merusak alam, membiarkan kepunahan suku adat di daerah tertentu, dan hal buruk-buruk lainnya? Sungguhlah saya masih dibuat bingung oleh tindakan mereka.
<\/p>\n\n\n\n

Kini ramai-ramai publik dihebohkan dengan keputusan PB Djarum untuk menghentikan audisi. Kebijakan itu mereka ambil tepat di tahun ke-50 mengabdi pada Indonesia. Alasannnya menghentikan audisi dipilih karena tak ingin melanggar regulasi. Sebenarnya tak ada kesalahan yang dilakukan oleh PB Djarum karena secara hukum mereka berbeda dengan PT Djarum yang merupakan perusahaan rokok. Lagian, BWF selaku otoritas tertinggi olahraga Badminton di dunia selama ini tak melihat PB Djarum melanggar aturan. 
<\/p>\n\n\n\n

Oke, anggap saja PB Djarum tak akan lagi melakukan audisi atau lebih buruknya mereka berhenti total. Sekarang pertanyaan yang sangat umum ada di pikiran masyarakat, siapa yang akan melanjutkan pembinaan olahraga khususnya Badminton di Indonesia? Seorang Menteri Pemuda dan Olahraga saja mengakui bahwa pemerintah tak bisa berdiri sendiri melakukannya. Para pembela KPAI dan antirokok juga harus memberikan solusi kongkrit atas ego yang mereka usung dalam penghentian PB Djarum.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuduhan Keterlaluan Yayasan Lentera Anak Terhadap Djarum Foundation<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang mereka bersiteguh dengan pendapat bahwa rokok tak boleh ikut campur urusan olahraga sok saja atuh minta kepada industri farmasi untuk masuk membina atlet muda kita. Selama ini kok saya kira jarang melihat perusahaan farmasi mau capek ikut membangun olahraga di Indonesia. Bukannya industri farmasi adalah sesuatu yang menyehatkan dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang katanya sedang sakit gara-gara rokok. Sudah saatnya kan perusahaan-perusahaan farmasi yang besar itu ikut menyehatkan bangsa kita dan memajukan olahraga tanah air. 
<\/p>\n\n\n\n

Ayo KPAI dan antirokok, minta industri farmasi bergerak, bukankah kalian yang memang mengaku paling cinta tanah air dan mau melindungi bangsa ini dari penyakit?<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dukung KPAI dan Antirokok Mendorong Perusahaan Farmasi Memajukan Olahraga Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dukung-kpai-dan-antirokok-mendorong-perusahaan-farmasi-memajukan-olahraga-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-11 10:18:07","post_modified_gmt":"2019-09-11 03:18:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6050","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6046,"post_author":"877","post_date":"2019-09-10 07:26:14","post_date_gmt":"2019-09-10 00:26:14","post_content":"\n

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). <\/p>\n\n\n\n

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. <\/p>\n\n\n\n

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.<\/p>\n\n\n\n

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. <\/p>\n\n\n\n

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. <\/p>\n\n\n\n

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. <\/em><\/p>\n\n\n\n

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. <\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=laV0ChAGjAA&lc=z23xwxdhknahslf3pacdp434rcwzjcn4ihdvply5pltw03c010c\n<\/div>
Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. <\/p>\n\n\n\n

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa<\/a><\/p>\n\n\n\n

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. <\/p>\n\n\n\n

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.<\/p>\n\n\n\n

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.
<\/p>\n","post_title":"KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kpai-jangan-ngeles-terus-berani-berbuat-berani-bertangggungjawab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-10 07:28:39","post_modified_gmt":"2019-09-10 00:28:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6046","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6042,"post_author":"883","post_date":"2019-09-06 09:08:22","post_date_gmt":"2019-09-06 02:08:22","post_content":"\n

Tarif cukai tahun depan dipastikan naik. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan menginginkan kenaikan tarif cukai di atas 10 persen. Usulan kenaikan ini disetujui oleh DPR dengan catatan tidak di atas 8 persen. Sehingga besaran kenaikan tarif cukai tahun depan angkanya masih spekulatif.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan tarif cukai memang tak bisa dielakkan, apalagi jika negara sedang tidak stabil keuangannya, cukai menjadi lumbung dana segar bagi negara. Sistem pungutan cukai disebut dengan istilah \u201csistem ijon.\u201d Pemerintah bisa menarik pembayaran cukai di depan.
<\/p>\n\n\n\n

Sialnya, meskipun menjadi lumbung dana segar bagi negara, tidak selaras dengan asas keadilan kebijakan bagi Industri Hasil Tembakau. Justru berbagai kebijakannya malah menekan Industri Hasil Tembakau, seperti Perda KTR yang agresif, pembatasan jumlah produksi, pelarangan iklan, hingga yang terbaru ini rencana simplifikasi cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana bisa masuk logika jika Industri Hasil Tembakau ditekan tetapi pemerintah menginginkan industri ini berkontribusi besar secara ekonomi bagi negara. Sungguh tidak masuk akal.
<\/p>\n\n\n\n

Isu kenaikan tarif cukai sebesar dua digit di tahun depan juga membuat pelaku industri menjadi was-was. Pasalnya akibat berbagai kebijakan yang menekan, berdampak kepada kinerja industri yang makin hari makin lesu. 
<\/p>\n\n\n\n

Ketua Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan mengatakan bahwa berdasarkan data dari Nielsen, pada bulan April 2018, terjadi penurunan volume industri rokok sebesar 7%. Padahal tahun-tahun sebelumnya penurunan volume berada di angka 2%.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah pabrik rokok di Indonesia pun setiap tahun mengalami penurunan. Data Bea Cukai menunjukkan, sejak 2011 jumlah pabrik rokok masih ada sebanyak 1.540. Lalu di 2012 menjadi 1.000 pabrik, pada 2013 sebanyak 800 pabrik, di 2014 menjadi sebanyak 700 pabrik, berkurang menjadi 600 pabrik di 2015 dan 2016. Serta di 2017 hanya menjadi 487 pabrik rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Jika volume industri rokok dan jumlah pabrik rokok terus menurun, kenaikan cukai rokok hingga dua digit makin memberatkan Industri Hasil Tembakau. Jika terus terbebani makin banyak pabrik rokok yang bertumbangan.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain kenaikan tarif cukai hingga dua digit juga akan membebani konsumen. Kenaikan tarif cukai akan turut mengerek harga rokok di pasaran. Karena pabrikan akan menaikan Harga Jual eceran (HJE) mereka ke konsumen untuk menyiasati kenaikan tarif cukai.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan semakin mahalnya harga rokok, sudah pasti konsumsi rokok dalam rumah tangga akan dikurangi, apalagi masyarakat sedang dihadapkan pada masalah daya beli yang terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan sejak Desember lalu, optimisme konsumen berada dalam tren menurun. Adapun indeks keyakinan konsumen pada Februari 2019 turun dari 125,5 pada Januari menjadi 125,1.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT<\/a><\/p>\n\n\n\n

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat terjadi penurunan daya beli buruh dan pembantu rumah tangga selama April 2019. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan penurunan daya beli ini akibat turunnya upah riil buruh tani dan bangunan sebanyak 0,66 persen dan 0,41 persen, sementara daya beli pembantu rumah tangga mengalami penurunan 0,27 persen dibanding bulan sebelumnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari data-data di atas dan fenomena riil penurunan daya beli masyarakat, kebijakan menaikkan tarif cukai rokok hingga dua digit merupakan sebuah peneluran kebijakan yang tidak bijak.
<\/p>\n\n\n\n

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) sendiri merekomendasikan agar kenaikan tarif cukai rokok di tahun depan hanya berada di angka 6 persen dengan acuan kondisi Industri Hasil Tembakau dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai Rokok di Atas 10 Persen Adalah Kebijakan Tidak Bijak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-rokok-di-atas-10-persen-adalah-kebijakan-tidak-bijak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-06 09:08:24","post_modified_gmt":"2019-09-06 02:08:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6039,"post_author":"877","post_date":"2019-09-05 10:09:07","post_date_gmt":"2019-09-05 03:09:07","post_content":"\n

Baru-baru ini atau kemarin, tepatnya pada tanggal 3 September 2019, ada Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK). Gerakan ini menginginkan Indonesia bebas asap rokok dan tar. Dengan penjelasan fafifu babibu\u2026..,<\/em> yang intinya asap rokok berbahaya, berpotensi menimbulkan masalah, sampai menjelaskan pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan kanker . Diujung penjelasan, gerakan ini mendorong dan mengkampanyekan produk tembakau alternatif. Coba, kalau kita nalar dengan pikiran cerdas, gerakan ini lucu dan aneh ya. Katanya mau bebas asap rokok, ini kok menawarkan rokok walaupun dengan bentuk lain. Mungkin gerakan ini harus digebrak juga, biar bangun dari mimpinya dan berpikiran cerdas, atau mungkin perlu ngopi dan ngretek dulu biar hijab wacananya terbuka. <\/p>\n\n\n\n

Coba kita telusuri atau kita cari tahu wujud tembakau alternatif. Pasti jawabannya menunjuk rokok elektrik. Karena di dunia ini tak ada lain produk tembakau alternatif kecuali rokok elektrik. Jenis dan mereknya banyak varian, ada vape, ada JUUL, I-Qos dan masih banyak lagi. Produksinya atau pabrikannya gak ada di Indonesia, adanya jauh disana Negara paman sam alias Amerika. Kira-kira satu bulan yang lalu, berita yang beredar, produk rokok elektrik ini diusir dari asal Negara produksinya (USA), alias dilarang peredarannya. Alasan utama dilarang beredar, rokok elektrik satu satunya produk rokok yang beresiko tinggi memunculkan penyakit paru-paru misterius bahkan mematikan si pengguna. Laporan dari hasil investigasi otorotas kesehatan di Amerika. Dengan didukung data, sudah ada 195 kasus di 22 negara di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Nah, dinegaranya sendiri aja diusir, ibarat rumah sendiri. Kok malah di Indonesia dikampanyekan. Yang gak aku pahami, justru yang mempromosikan saudara kita sendiri, anak bangsa. Belum lagi cara mempromosikan dengan menjelek-jelekkan rokok kretek, wah ini sudah kebablasan. Sebagai anak bangsa, harusnya bangga dengan produk dalam negeri, bukan malah terbalik. Produk orang lain dibanggakan, sedang produk sendiri di musuhi. Ini ada apa, pasti timbul pertanyaan. Dimana nasionalisme dan patriotisme kalian, yang sudah ditanamkan di tiap jiwa anak bangsa oleh para pendiri bangsa ini. <\/p>\n\n\n\n

Ir, Soekarno atau Bung Karno presiden pertama kali aja bangga dengan produk rokok kretek, kemana-mana selalu ia bawa, bahkan di acara resmi ke Negaraan bertemu dengan tokoh Negara lain pun, rokok kretek selalu dibawa dan disulut. Tak berhenti disitu, dibeberapa pidato Bung Karno selalu disebut dengan perintah untuk melihat Niti Semito pemilik perusaahan rokok kretek terbesar di Kudus sekitar abad 20an. Satu-satunya industri yang masih jaya, dikala industri lain terpuruk masa penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Apa Anda pikir, saat itu tidak rokok produk luar negeri? Anggapan yang salah. Ada namanya rokok cangklong. Kala itu, yang merokok pakai cangklong hanya orang-orang yang berduit tebal, contohnya para saudagar, bangsawan minimal mandor lapangan. Hanya masyarakat jelata yang merokok kretek dengan bungkus daun jagung yang dikemudian hari berubah menggunakan kertas papier. Bahkan tidak jarang, ceritanya saat itu, perokok kretek jadi ejekan, kampungan. Lama-kelamaan rokok kretek merambah naik jadi rokok kelas atas. Bahkan sangat disukai orang luar. Hingga ada pemuda saat itu menjadi pedagang ekspor rokok ke Negara-negara di dunia, Subhan ZE namanya. Salah satu pemuda kaya dari Kudus saat itu, karena berhasil memasarkan rokok kretek keluar Negeri. Konon ceritanya, ia sampai deket dengan orang-orang terpenting Negara lain. Tak hanya itu, ada cerita, ia pernah dipercaya Bung Karno sebagai pelantara untuk pembelian senjata militer. Inilah sekilas tentang cerita sejarah tokoh-takoh dahulu yang punya jiwa nasionalisme dan patriotis tinggi, menjunjung tinggi produk dalam negeri. Bahkan dahulu di Istana Negara tersedia rokok kretek khusus bergambar burung Garuda.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang kembali ke Gebrak, satu gerakan yang konyol dan tidak konsisten, jauh dari nasionalisme bahkan patriotism. Pertama<\/em>, pernahkan mereka membuat kajian dengan membandingkan volume asap rokok dengan volume asap lainnya (asap buang industri, asap pembakaran, asap knalpot dan lain sebagainya)?, pasti belum pernah. Kalau memang sudah pernah melakukan kajian, tentunya faham jumlah perbandingannya dan asap apa yang paling berdampak pada manusia dan lingkungan hidup. Kalau faham pasti tidak mempermasalahkan (asap rokok). Kedua<\/em>, banyakan mana asap yang dikeluarkan rokok elektrik dengan rokok non elektrik?, nyatanya asap yang dikeluarkan rokok elektrik lebih banyak dari pada rokok non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/em>, tidah faham media dan konten rokok elektri dengan rokok non elektrik. Namanya elektrik pastinya pakai media listrik untuk pembakarannya. Kalau begitu, coba bandingkan, air hasil pemanasan pakai listrik dengan pemanasan pakai api (kompor), hasilnya pasti bagusan kompor. Kok bisa?, jawabnya mudah, kalau bagusan listrik sudah lama pemerintah mencanangkan program pemanas pakai listrik tidak pakai kompor. Nyatanya pemerintah membuat program kompor gas. Yang menimbulkan masalah baru, terjadi peledakan, kelangkaan, harga naik terus dan sebagainya. Justru masyarakat lebih nyaman dan aman pakai minyak. Namaun karena sudah menjadi program pemerintah, masyarakat kecil tak bisa berbuat lebih. Sekarang konten rokok elektrik dan non elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Jelas rokok elektrik memakai proses bahan kimia (buatan) untuk mengolah tembakau, sehingga setelah jadi uap kemudian dibantu pembakaran pakai media listrik menghasilkan asap. Akibatnya asap yang dikeluarkan sangat banyak kayak asap knalpot. Beda dengan rokok non elektrik, bahannya asli pembakarannya natural (api). Api diciptakan Tuhan sebagai pemanas untuk penyeimbang alam (baca kitab tafsir Jalalain). Jadi rokok elektrik memakai proses kimia buatan, sedang rokok memakai proses kimia natural. Rokok sendiri ada dua jenis. Rokok putih dan rokok kretek. Rokok putih hanya menggunakan tembakau, rokok kretek menggunakan tembakau dan cengkeh. Tembakau dan cengkeh jika dibakar menghasilkan senyawa dan menyatu yang dapat sebagai media pengobatan. Beda dengan rokok yang kontennya pakai tembakau saja, maka yang dihasilkan tidak bisa untuk pengobatan.  <\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/em>,  baik rokok elektrik dan rokok putih bukan asli Indonesia. Bahkan bahan baku dan produksinya pun tidak di Indonesia. Beda dengan rokok kretek, mulai dari bahan baku dari petani Indonesia yang tersebar di bumi Indonesia, pekerja dan produksinya di Tanah Air ini. Artinya rokok kretek sebagai industri padat karya, yang menghidupi banyak saudara kita. Sehingga ketika memusuhi rokok kretek sama dengan memusuhi saudara sendiri. Ketika membela rokok impor sama dengan membela penjajah. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasan perbedaan tiap rokok di atas sengaja tidak dijelaskan pakai rumus matematika atau rumus kimia. Karena kalau dijelaskan hanya orang-orang tertentu yang faham. Namun pada intinya, rokok kretek menyehatkan, rokok jenis lain kebalikannya. Buktinya, sejarah penemuan kretek sebagai media pengobatan sakit bengek atau pernafasan, cengkeh sampai detik ini paling bagus sebagai bahan obat rasa sakit, membuat badan hangat dan sebagainya. Jadi asap rokok (bukan kretek ) apapun jenisnya sangat berbeda dengan asap rokok kretek.  
<\/p>\n","post_title":"Logika Asap Rokok Elektrik dan Asap Kretek Itu Beda","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"logika-asap-rokok-elektrik-dan-asap-kretek-itu-beda","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-05 10:09:14","post_modified_gmt":"2019-09-05 03:09:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6039","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};